Bagaimana Caranya Agar Gen Z Jatuh Cinta Pada Gamelan?

Read Time:2 Minute, 32 Second

Adalah seperangkat alat musik yang disebut dengan gamelan. Gamelan merupakan ensembel musik karena terdiri dari beberapa alat musik yang dipadukan secara harmonik. Asli Indonesia yang biasanya menonjolkan alat musik khas tradisional atau metalofon, gambang, gendang, dan gong. Gamelan banyak dimainkan di daerah Jawa maupun Bali. Personifikasi gamelan Jawa merupakan sebuah simponi musik dengan cita rasa keselarasan hidup orang Jawa.

Bisa diartikan bahwa gamelan merupakan simbolisasi kehidupan yang selaras dan harmonis seperti tujuan dan tata perilaku masyarakat Jawa. Lalu apakah irama bunyi gamelan Jawa sudah asing di telinga masyarakat Jawa. Gamelan seringkali menemani acara kesenian Jawa seperti upacara pernikahan, upacara keraton maupun pagelaran wayang kulit bahkan tari dan kesenian tradisi lainnya. Perkembangan musik terbaru pun ada juga yang mengkombinasikan gamelan dan alat musik modern, namun tampaknya gamelan Jawa kini menjadi sesuatu yang ‘asing’ bagi para Gen Z negeri ini.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. Bisa disebut generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya.

Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Malas gerak, makanan instan di food court, pergaulan anak mall menyukai hal yang praktis dan tidak mau ribet. Lebih tahan dengan hoaxs, karena pilihan referensi dan literasi, tetapi cenderung lebih individual sedikit yang berkumpul dan berserikat.

Menurut Tio Gen Z yang lahir di tahun 2004 , dia nggak suka gamelan karena iramanya tidak “sesuai cita rasa kekinian”, juga kalah populer dengan instrumen musik modern lain seperti gitar, keyboard, piano, apalagi akses belajar gamelan sangatlah terbatas. Gamelan menjadi ribet karena ketika memainkannya membutuhkan orang banyak. Gen Z bisa dipastikan jarang berada di acara atau upacara sakral yang membunyikan irama gamelan, tetapi jiwa nasionalisnya mudah disentuh manakala acara tersebut adalah untuk kepentingan keluarga atau masyarakat umum.

Jiwa pemberontakan tipis tidak ada protes yang verbal, ketidak setujuannya cukup diungkapkan dengan gadget. Ketika mempercayai sesuatu maka akan ada upaya secara mandiri untuk mencapainya. Konsep mencintai pandangan pertama, rindu dan selalu ingin dekat.

“Gak ada formulasi yang jitu kiat Gen Z mencintai gamelan. Tapi dari konsep dasar mencintai inilah bisa dijadikan langkah nyata,” kata Ende pengamat seni yang tinggal di Jember. Kiat pertama, dalam mendefinisikan gamelan tidak harus perfect tapi cukup membikin penasaran.

Mengenalkan wujud gamelan yang tidak sakral sehingga sangat welcome untuk dieksplorasi meski tidak ngawur memperlakukan warisan budaya leluhur. Adakan kurikulum di sekolah sebagai pengetahuan dasar gamelan. Kemudian frekuensi pentas seni kolaboratif dengan seni tari atau drama bahkan musik modern. Bikin Gen Z suka dan ketagihan akhirnya merasa kangen bila lama tidak ada event semacam itu. Dengan cara sering mengadakan pentas seni budaya bagi pemuda, dengan melibatkannya karena akan menjadi banyak pemuda pemikiran melestarikan dengan caranya.

“Terakhir, yang kita lakukan hanyalah, mencoba menumbuhkan cinta dalam hati kita untuk cinta budaya Indonesia, lambat laun kita akan peduli untuk menjaganya. Agar bisa bercerita pada generasi penerus kita,” pungkas Ende.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan