Pasang Surut Jaranan Singo Gendeng Menghibur Rakyat

Read Time:4 Minute, 18 Second

Masyarakat jaranan sering diidentikkan dengan orang abangan, orang yang bukan priyayi dan bukan santri. Yaitu cap sebagai orang lapisan bawah yang sekuler, memandang bahwa seni itu berbeda dengan syariah agama. Apalagi pasca peristiwa 1965 seluruh elemen masyarakat memberikan identifikasi yang negatif terhadap kesenian jaranan, terutama dari kalangan agamawan, beranggapan bahwa jaranan itu mengundang setan. Sehingga pada saat itu para agamawan berusaha menghabisi seniman-seniman abangan yang berbau paham komunis.

Saat itulah pemerintah sekitar 1970an melakukan pengontrolan seniman termasuk jaranan dengan membuatkan Nomor Induk Seniman. Tanpa memiliki kartu ini, seniman tidak boleh tampil di ruang publik. Jaranan yang dianggap Lekra jarang sekali tampil. Hanya seniman-seniman jaranan yang berasal dari LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional-PNI) mungkin masih bisa mengadakan pertunjukan di ruang publik. Masyarakat secara tidak langsung memberikan identifikasi negatif terhadap kesenian jaranan apalagi nanggap. Karena tidak mau dicap sebagai pengikut PKI. Singkat cerita kesenian jaranan dijauhi oleh masyarakat.

Jaranan mulai menggandeng militer untuk perlindungan, para seniman jaranan mulai memodifikasi jaranan dari pakaian, make up, dan tarian serta musiknya. Dalam berbagai pertunjukan jaranan, pemain jaranan harus memiliki sifat yang arif, sopan kepada masyarakat dan para penanggap. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki citra jaranan di muka masyarakat, seniman jaranan mulai menghaluskan jaranan. Kreasi mandiri jaranan meng-entertain, menjadi sebuah pertunjukan yang berkonsep dan tidak liar. Ini terjadi pada era 90an dilanjutkan dengan kekuatan lobi para pengelolanya sehingga jaranan dianggap mampu menjadi identitas Jawa Timuran, waktu itu berkembang pesat di wilayah Jatim Mataraman.

Bergeser dengan pola proyek pementasan dari pemerintah menjadikan koneksitas para pengelola jaranan terpengaruh oleh pola birokrasi, akibatnya terjadi like and dislike memilih kontingen budaya ke tingkat regional bahkan nasional. Pola proyek ini banyak menyebabkan jaranan yang tidak terkoneksi dengan elit birokrasi baik desa, maupun kabupaten bahkan nasional, mati secara perlahan atau kembang kempis. Karena tidak ada akses untuk menampilkan kebolehan atraksi sebagai ciri khas jaranannya.

Berkisar tahun 2000an grup jaranan diibaratkan hidup segan matipun tak mau. Karena sepinya tanggapan maka strategi yang mereka bikin secara alami adalah pola arisan, salah satu cara yang jitu untuk menjaga konsistensi jaranan dan bertahan agar tetap eksis. Mengenai operasional grup dan kaderisasi talent, diusahakan secara mandiri dengan model patungan atau menyisihkan sebagian setelah tanggapan yang sebenarnya juga tidak terlalu sering.

Kemajuan kesenian jaranan mulai nampak wujudnya, di kampung-kampung dan desa jaranan mulai kelihatan eksistensinya. Meski asyik dengan dunianya sendiri. Kebijakan nasional tentang kepariwisataan dan kebudayaan pada jaman visit Indonesia years yang menggeliat diawal pemerintahan SBY. Geliat segala bentuk festival seni budaya daerah maupun nasional digenjot untuk kepentingan penguatan visi Wonderfull Indonesia yang bertujuan peningkatan tujuan wisatawan asing ke Indonesia. Di tambah sentimen negara tetangga Malaysia yang juga mengklaim seni-seni tradisional Indonesia, para seniman tersentak bangkit dan mulai berkarya dalam kiprahnya menjaga kebudayaan Indonesia agar tidak diambil bangsa lain.

Klaim Malaysia itu ternyata cukup melecut para seniman Indonesia, kesenian tradisi menjadi menguat atas dukungan birokrasi dan juragan atau elit desa melakukan perlawanan. Nah pada saat inilah reyog, jaranan, ludruk, seni janger dan barongan mereka bangkit dan eksis. Bentuk-bentuk penyelenggaraan festival menjadi kiat untuk memprovokasi produktifitas dalam berkesenian.

“Hadiah dan penghargaan bagi para seniman jaranan ini tidak terlalu berarti. Tetapi yang paling penting adalah pengakuan eksistensinya dalam berkesenian jaranan dari masyarakat. Itulah yang membuat mereka tetap bertahan dan lebih bersemangat,” kata Cak Jujuk anggota jaranan Singo Gendeng Talangsari Jember.

Dulu di era pemerintahan Jember ada birokrat yang suka dengan kesenian beliau adalah Pak Daduk begitu orang dulu menyebutnya. Pak Daduk juga membikin sanggar seni wadah seniman jember berkreasi, nama sanggar itu adalah Sanggar Dewi Sartika. Pada waktu itu kreatifitas orang-orang seni Jember merasa mendapatkan tempat.
Adalah Pak Wi seniman sanggar Dewi Sartika, yang kemudian membentuk jaranan Singo Gendeng di Talangsari. Waktu berganti eksistensi jaranan mengalami pasang surut, tetapi bangkit merintis lagi pada waktu Bupati Samsul yang sebelumnya Walikotatip Jember, Singo Gendeng justru eksis kembali dengan jaranan anak-anak seiring dengan geliat kesenian di kampus Tegalboto.

Jaranan anak-anak pada waktu itu tidak musim, tetapi Singo Gendeng justru melakukan dengan memperkuat sisi jenaka dan hiburan karena pemainnya anak-anak.
“Grup jaranan ini sudah hampir tiga generasi, diawali dengan Pak Wi , kedua jamannya pakde Wito terus lanjut ke Ribut, dan kini anak-anak muda sudah mulai bisa diberi tanggung jawab,” ucap Cak Didit seniman Jember memaparkan silsilah grup Singo Gendeng.

Jaranan Singo Gendeng salah satu jaranan yang konsisten dalam jenjang kaderisasinya, meskipun dikelola dengan manajemen yang sederhana grup ini mampu bertahan memenuhi kebutuhan personil dan peralatan pementasan secara mandiri. Muncul kreasi-kreasi dari grup, berkat latihan rutin malam Jum’at mereka menjadi kenal dengan sesama seniman jaranan lainnya. Jaranan di kota Jember semakin bergairah ketika banyak event yang menampilkan mereka. Sebut saja Bolosrewu Jaranan Barong performance art yang memadukan seni jaranan dan barongan. Digarap secara massal dan diadakan di tempat wisata Pantai Payangan.

Jaranan Jember semakin terekspose ke publik, dan memunculkan semangat seniman pendahulu yang lama vakum. Semacam ada kegairahan baru dalam kehidupan seniman jaranan dan barong. Kesenian jaranan mengalami perubahan dalam hal penyajian dengan memadukan dengan seni tradisi lainnya. Kini jaranan Jember menjadi populer dikalangan anak-anak muda dan respon masyarakat Jember kini semakin baik. Jaranan kini diapresiasi positif, sebagai wadah anak-anak muda yang berkreasi, menghibur serta mampu mengembangkan seni budaya Jember.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan