Peringatan Haul Ke-10 Gus Dur di Paroki Jember

Read Time:4 Minute, 54 Second

Peristiwa ini bisa sebut ngaji budaya mengasah rasa kemanusiaan anak bangsa, dalam acara Haul Gus Dur, 8 Januari 2020 di Paroki Jember Gereja Santo Yusuf diadakan oleh Komunitas Gusdurian Jember yang bekerjasama dengan Paroki Jember. Acara ini bertema “Dengan Kemanusiaan Melestarikan Kebudayaan,” diikuti oleh akademisi, budayawan, organisasi lintas agama, LSM dan beberapa penggerak multikultural, semacam jagongan renyah yang membicarakan pemikiran dan tindakan Gus Dur untuk bangsa dan negara ini.

Hadir sebagai pembicara yaitu Romo Marwi, Pendeta Bagus Samuel, Cak ndut dan Gus Rizal, mereka banyak bercerita mengenai kiprah Gus Dur selama hidupnya, hampir tidak ada satupun cerita kiprah gus Dur untuk pribadinya. Teguh sebagai koordinator Gusdurian Jember mengajak para peserta diskusi ini untuk tidak sekedar mengenang saja tetapi dia menginginkan bagaimana kita sebagai penganut Gus Dur mampu mengimplementasikan ajaran Gus Dur dalam setiap tindakan kesehariaan kita.

Sementara pemateri Iwan Kusuma, yang biasa disebut Cak Ndut, lebih mengarahkan pada krisis kemanusian yang menjangkiti masyarakat Indonesia sekarang ini. “Gus Dur adalah bapak demokrasi Indonesia, dasarnya adalah kemanusiaan yaitu kemanusiaan yang mencintai, saling menghargai dan saling menghidupi sehingga tak ada lagi kebencian yang berujung kekerasan serta pembunuhan. Dengan demokrasi semuanya bisa kita musyawarahkan hingga jadi mufakat diatara kita,” paparnya.

Dalam membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dapat terbentuk dengan sendirinya tanpa melalui pembentukan karakter seorang manusia yang teruji dalam konteks sejarah dan diakui oleh para masyarakat pendukungnya. Maka diperlukan pendidikan yang akan membentuk karakter anak-anak bangsa Indonesia yang unggul dan tangguh. Pendidikan ini harus didasari oleh humanisme dan mendorong anak-anak bangsa untuk bebas mencari identitas diri, arah hidup, keyakinan dan keimanannya (memanusiakan manusia).

Cak Ndut menyatakan bahwa humanisme Indonesia, pada dasarnya adalah manusia yang religius, dan religiusitas ini dipahami sebagai kesadaran atas eksistensi Ilahi dan aspek kesucian dalam bertindak, bukan sekedar formalitas beragama. Kesadaran yang muncul ini membuat manusia sadar sebagai ciptaan Tuhan yang menjunjung moralitas dan tidak hanya bertindak atas dasar rasionalitas.
Tujuan pendidikan yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang humanis yaitu manusia Indonesia yang menjalani hidupnya dengan menyerap nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan tetap berpedoman dengan nilai-nilai Indonesia, dan Pancasila telah menjadi pedoman bangsa ini.

Dalam prinsip kebudayaan, bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar untuk mengganti apa yang tidak baik dari budayanya, dan menjaga hal yang baik dari budayanya. Sehingga pendidikan tersebut harus memiliki beberapa materi untuk mendukung membentuk karakter utama: memiliki daya tarik, cerdik, memiliki empati, berani, bijaksana, berpandangan baik, tahu diri, memiliki tubuh yang sehat, bijak komunikatif dalam berbicara, dan percaya diri. Dengan proses ini akan lahir anak-anak bangsa yang akan mampu memimpin perubahan dan membangun kebudayaan bangsanya.

Sebenarnya tidak ada ukuran pasti perkembangan kebudayaan yang telah mencapai puncak-puncaknya, namun kemajuan kebudayaan akan tercermin dari tingkat intelektual masyarakat, keindahan karya seni budayanya, teknologi ilmu pengetahuan, spiritual religius yang terlihat pada masyarakatnya. Kebudayaan adalah kata kerja yang mestinya akan berdialektis dengan masyarakat di jamannya, sehingga bersifat sangat dinamis. Oleh sebab itu dapat mengalami perubahan atau pergeseran. Jika anak-anak bangsa ini tangguh dalam memimpin perubahan ke arah yang lebih baik, niscaya kebudayaan bangsa ini akan turut mewarnai peradaban dunia.

Nur Hasan dari PCNU hadir dan memberikan pendapatnya mengenai kemajemukan Indonesia (Pluralisme) adalah kodrati atau fitrah dari Tuhan bahwa peradaban adalah transformasi elemen-elemen budaya secara berkelanjutan demi keselamatan umat manusia, bahasa dan agama jika diurai meliputi budaya tulis menulis, metalurgi, pengembangan arsitektur, perdagangan antar negara, ilmu hitung, menciptakan teknis bercocok tanam, dan penggunaan alat tukar. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar jumlah penduduknya 264 juta jiwa (2017) yang hidup di 34 provinsi, dengan keluasan daratan dan lautannya yang terdiri dari 17.500 an pulau, dengan 300 etnik dan 1340 suku bangsa. Sedangkan agama yang berkembang di Indonesia ada 6 agama, belum lagi beberapa kepercayaan dan keyakinan kearifan lokal semuanya hidup dengan toleransi masyarakatnya. Kemajemukan ini adalah anugerah Ilahi, bahwa bangsa yang disebut nusantara ini telah menjalani kemerdekaanya hampir 75 tahun berada ditengah-tengah peradaban dunia yang semakin modern. Dikenal sebagai bangsa dengan keanekaragaman kekayaan budayanya, penduduknya yang ramah, tingkat religiusitasnya yang toleran, murah senyum dan cinta damai masih memegang teguh adat istiadat ketimurannya. Kini mulai mengalami krisis kemanusiaannya, beberapa elemen kebudayaan mengalami pergeseran dan anak-anak bangsa mulai cuek dengan keadaan ini.

“Terjadinya krisis kemanusiaan di Indonesia akhir-akhir ini disinyalir ada beberapa sebab, antara lain munculnya sektarian dengan tujuan ingin memperjelas perbedaan (Suku, Agama dan Ras), kemudian munculnya hilangnya budaya malu kini cenderung pragmatis, ada lagi pengaruh ketidakmampuan mengimbangi pengaruh pengetahuan dan tehnologi (digital Hi-tech global), ketidakpercayaan terhadap penegakan hukum, mulai bingung mencerna terhadap ceramah para tokoh agama, tidak terlalu percaya dengan guru. “Krisis kemanusiaan mengalami kecenderungan pada sikap pesimistis terhadap keadaan negara ini, baik pemerintahan maupun kondisi ekonomi, sehingga dampaknya angka kejahatan sosial, kekerasan dalam rumahtangga dan kriminal remaja sering kita dengar beritanya,” pungkas Cak Ndut.

Menyikapi ini jadi teringat akan Gus Dur yang pernah berpesan singkat, namun mendalam dan penuh makna. Beliau mengatakan tiga substansi soal hubungan antar-manusia, “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi.” Gus Dur menekankan bahwa dalam kehidupan yang banyak warna dan banyak wajah ini, manusia sebaiknya belajar memahami, mengerti, dan memaafkan orang lain. Hal ini berangkat dari prinsip bahwa Allah SWT tidak bosan memaafkan hamba-hambanya yang sering bertindak salah dan melakukan dosa.

Dalam ajaran Islam Gus Dur mengajak manusia untuk mengutamakan bermusyawarah. Jika sampai berdebat, utamakanlah musyawarah dengan penuh lapang dada, besar hati, dan pikiran terbuka perlu untuk dikedepankan. Perbedaan yang timbul harus dihadapi dengan cara yang baik dan lembut, bukan dengan cara menghujat, mencaci maki, apalagi menggunakan teror dan kekerasan. Pesan tokoh humanis ini tentu tidak ada ajaran agama atau keyakinan manapun menentangnya, tinggal menyebarkannya pada masyarakat dengan penuh kasih dan kedamaian.

Acara ini ditutup dengan doa dari beberapa agama, karena yang hadir berasal dari beberapa agama dan kepercayaan yang ada di Jember, pada dasarnya memohon pada Tuhan Yang Maha Esa agar masyarakat Indonesia utamanya Jember senantiasa hidup rukun saling menghargai dan selalu dalam kedamaian.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan