Pilkades Pakis Tumpuan Penyelesaian Kasus Ketajek

Read Time:2 Minute, 15 Second

Letak geografis Desa Pakis membentuk sebagian besar penduduk Pakis berprofesi sebagai petani, terutama petani penggarap sawah, petani kopi dan buah-buahan hortikultura lainnya. Jumlah warga di desa Pakis ini ada sekitar 6799 warga yang yang terbagi atas empat dusun Pertelon, Gludug, Pakis, Cempaka, Kemundungan dan Ketajeg. Pada 26 September 2019 yang akan datang akan mengadakan kegiatan Pilkades. Pilkades Pakis ini merupakan rangkaian kegiatan Pilkades Serentak masuk wilayah tengah Kabupaten Jember, dan pilkades pakis akan di jadwalkan secara bersamaan dengan 4 desa lainnya di Kecamatan Panti.

Jika menyebut Desa Pakis akan lekat dalam memori berita-berita yang memperbincangkan kasus Ketajek dan dinamika pengelolaan oleh pengurus koperasi yang tersangkut kasus korupsi karena merugikan keuangan negara. Kejadian ketika Kejaksaan Negeri Jember menahan Ketua Koperasi Tani Ketajek Makmur, Supardjo ramai diberitakan di media terkait penanganan kasus dugaan penyelewengan pengelolaan anggaran tanah Ketajek di Kecamatan Panti tersebut.

Selama 2 tahun pengelolaan tanah sekitar 478 ha di tahun 2014 hingga 2016 tidak ada setoran ke Kas Daerah sehingga negara dirugikan mencapai 9 Milyar rupiah. Kemudian Kejaksaan Negeri Jember kembali melakukan penahanan terhadap satu tersangka baru terkait kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan tanah eks PDP Khayangan yang telah merugikan keuangan negara senilai hampir 9 Milyar Rupiah, Kamis (6/9/2018). Satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka yakni Bendahara Koperasi Tani Ketajek Makmur, H Sutomo . Yang sampai sekarang kasusnya masih menjalani proses hukum. Kasus tanah Ketajek merupakan kasus tanah di Kabupaten Jember, yang menjadi perhatian para pihak terutama aktifis agraria (Sd inpers, KPA, LBH ) dan organisasi petani (Sekti Jember, API, FSPI) baik lokal maupun nasional larena menyangkut hak-hak atas tanah untuk petani penggarap.

Harapan warga Desa Pakis dalam Pilkades Pakis nantinya akan sinergis antara aspirasi warga tentang peran kepala desa dalam penyelesaian dengan harapan dukungan suara warga demi kemenangan cakades-cakades saat berkontestasi. Warga menginginkan peningkatan kesejahteraan warga ketika tanah mereka kembali bisa digarap sekaligus ini akan memberikan perbaikan nama Desa Pakis yang ruwet dan tidak adanya sikap kepemimpinan yang tegas terhadap kasus tanah Ketajek. Kasus Ketajek ini sudah “memakan” tiga periode kepala desa selama 15 tahun lebih tidak ada tindakan kepala desa yang mampu menyelesaikannya.

Melihat peluang bahwa kondisi peta politik Desa Pakis saat ini, warga masyarakat yang tidak puas akan kepemimpinan kades petahana Jumadik memunculkan beberapa cakades sebagai penantang. Cakades-cakades ini antara lain, Zaini (mantan kades) dan Totok seorang petani Pakis yang didukung oleh organisasi petani KOMPAK untuk diperjuangkan kelak akan menjadi Kades Pakis yang membela kepentingan hak-hak petani penggarap tanah Ketajek. Seorang Totok adalah pemuda tani yang ramah, sopan dan sabar tetapi jika menyangkut urusan petani terutama perjuangan kasus tanah Ketajek bisa berubah sangat progresif . Keluarga besar koperasi juga mendukung, karena Totok masih menjadi anggota jadi dia merupakan bagian dari koperasi juga.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan