A Story Of Bloated Benggo

Read Time:4 Minute, 12 Second

Kali ini saya ingin berkisah tentang nyawa yang hampir melayang. Bangun kesiangan di Minggu pagi, 25 Agustus 2019, lalu, tiba-tiba tergerak hati ingin menengok rumput gajah yang baru ditanam anak kandang seminggu lalu. Berdiri di antara parit dan hamparan tempat benih-benih rumput ditancapkan, dua perasaan muncul beriringan. Melihat pucuk-pucuk rumput yang trubus menggembirakan, memandang sebagian benih yang kering menggetirkan. Suasana itu melupakan sejenak adegan di sebelah rumput-rumput yang ditanam itu, delapan sapi di dalam kandang tengah tegang. Menatap saya tak bersuara. Tujuh berdiri dan satu di lantai terkapar mengerang.

Saya baru sadar, ternyata sejak bangun pagi tadi, belum terdengar sekalipun lenguh Benggo dan Laras, dua sapi yang paling rajin memanggil-manggil kami meminta menyiapkan baki makanan. Biasanya pagi ketika lapar sudah terdengar dari jarak hanya sepelemparan batu saja dari tempat saya tinggal.

Segera saya melompat di antara kotak-kotak makanan bak pendekar silat, mendekat di bawah papan nama Benggo, sapi yang terkapar itu, meyakinkan bahwa nyawanya masih belum melayang. Inikah teror yang menakutkan banyak peternak itu? Lalat-lalat berterbangan dan hinggap merayakan pesta menjelang kematian anak sapi berbadan hitam dan berkepala putih itu. Inilah kisah tentang bloated story (kisah angin kembung) pada sapi-sapi peliharaan di dalam kandang.

“Anda harus berani menancapkan jarum di rongga segitiga antara paha belakang dan perutnya sampai benar-benar menembus lambung. Tancapkan dan kalau bau kentut mulai menguap, tanda separuh nyawa sudah berhasil diselamatkan,” kata Pakde Sudarmoko, pegiat tani dan pemilik peternakan Lembah Kamuning, di Kuningan, Jawa Barat, dua minggu lalu di hadapan anggota Poktan Akar Tani Makmur (ATM).

Mengingat-ingat pesan Pakde Moko sambil berlari ke rumah mengambil HP dan menggugah dua pemuda yang semalam menjaga keamanan, lalu kembali ke kandang diikuti dua pemuda itu yang berlarian tak karuan. Berlari tak tahu untuk bantuan apa, karena masih belum saya beritahu dan tak cukup waktu menjelaskan. Baru paham sesampai mereka di kandang. Sambil mematuhi pesan lain Pakde Moko untuk tenang, saya mulai mengambil foto Benggo dan menyebar kode SOS ke anggota ATM melalui gambar itu.

Dua anggota merespon: satu peternak, satu lagi pendamping petani. Dari mereka kabar dan pembagian tugas disebar. Situasinya serupa perang. Ada yang mencari jarum suntik, menyiapkan gula merah, mencari minyak sayur, tolak angin, remason, probiotik dan menghubungi dokter hewan Anton. Semua materi training muncul di kepala “Saya baru bisa datang jam 10 nanti,” jawab dokter itu.

Jawaban itu makin memperteguh kami untuk mengambil tindakan darurat sebelum Benggo mati meninggalkan tali keluh. Ini sapi jenis Simental yang paling mahal di antara yang lain. Jenis yang paling diandalkan beratnya jika nanti besar.

Pak Hasyim, peternak sejak kecil itu, datang lalu pergi dan datang lagi membawa jarum suntik yang dibeli dari apotek. Berpenampilan ditenangkan, tetapi tetap tak sempurna menyembunyikan ketegangannya. Seperti Doktor Pol di acara “Watch The Incredible Dr Pol” di Natge channel, ia merogoh lebih dulu dubur Benggo hingga siku, mengambil sample kotoran untuk memastikan indikator kembung dan ternyata kosong. Menandakan kemungkinan Benggo terserang nitrogen dari makanan hijauan yang kaya N. Benggo mengejan dan nafasnya mulai tersengal-sengal. Mungkin paru dan jantungnya sudah mulai terdesak gas itu. Saya membayangkan peristiwa buruk akan terjadi melihat warna hitam matanya yang mulai tenggelam sambil terus komat-kamit berdoa.

Pak Hasyim putuskan menyuntik segitiga rongga itu dibantu dua petani. Dan tepat. Setelah itu mendesis pelan dan gas keluar menguapkan bau tak sedap. Ketegangan sempat terjadi. Benggo kembali mengejan diikuti gerak kaki seperti tengah menghadapi sakarotul maut. Bisa dibayangkan betapa sakitnya serangan angin yang hebat pagi itu. Bahkan hewan sekuat sapi dibanding manusia saja bisa terkapar hanya karena angin yang sarat nitrogen terjebak di dalam tubuhnya.

Ketegangan berlalu setelah bahan-bahan yang dibutuhkan berhasil dimasukkan ke mulut Benggo. Berurutan mulai tolak angin, cairan gula merah, yakult, dan terakhir kopi telur. Saya rasanya ingin tepuk tangan melihat keberhasilan operasi di kandang yang sudah disulap menjadi ruang UGD itu.

Betapa laparnya ia melahap sejumput rumput yang disorongkan. Makan dengan posisi badan masih duduk dan kepala tersangga tali kekang. Mengucap syukur sebagai ganti tepukan mengiringi Benggo yang berdiri dibantu Pak Hasyim yang mulai mengerti arti tusukan pada rongga segitiga itu. Seminggu sebelum lebaran iedul fitri, ia harus kehilangan sapi seharga Rp.20 juta, karena belum tahu cara menghadapi serangan itu. Dengan keberhasilan operasinya itu, ia seperti sedang membayar hutang di masa lalu dengan mempraktekkan pesan penting Lembah Kamuning pagi itu.

Sesuai janjinya, dokter Anton datang tak berapa lama setelah “operasi” itu. Ia masih harus menunggu dua jam untuk memastikan apakah serangan itu datang akibat makanan ataukah bakteri? Jika bakteri, dua jam setelah berdiri sapi kemungkinan akan terkapar lagi.

Kami mengobrol banyak hal setelah itu di kandang dan diteruskan di bawah payung di taman ODM sambil menyeduh kopi. Ada saja kisah-kisah lucu di balik ketegangan. Satu dari dua penjaga keamanan tadi, saking panik dan tergesa-gesa, menyahut bungkusan gula merah dalam plastik di dapur dan setelah dibawa ke kandang isinya sekerat terasi bikin kami menahan tawa. Dan di bawah payung itu tawa kami benar-benar meledak. Selalu ada kisah lucu di balik ketegangan seiring berlalunya “a story of bloated” pagi itu.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Omah Dongeng Marwah

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan