Hari Pangan Sedunia Memperingati Nasib Petani Yang Terbengkalai

Read Time:4 Minute, 35 Second

BESUKI.ID- 16 oktober merupakan hari untuk memperingati didirikannya organisasi pangan dan pertanian(FAO) pada tahun 1945, lebih dari 150 negara anggota PBB turut serta merayakannya pada hari itu pula dinyatakan hari pangan dunia oleh FAO, Indonesia yang merupakan Negara agraris dengan jumlah warga 267 juta jiwa, dari data BPS menegaskan bahwa jumlah penduduk pekerja berkisar 124,01juta jiwa dengan 35,7 juta jiwa sebagai pekerja di sektor pertanian, jumlah tersebut dinyatakan terus menurun akibat pekerja di sektor pertanian ingin mencari penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Berbicara pertanian di Indonesia kita tidak bisa melupakan sejarah pertanian di Indonesia, dimulai culture stelsel 1830 oleh van den bosch yang biasa kita kenal dengan tanam paksa mengalih fungsikan lahan pangan sebagai lahan komuditi ekspor seperti kopi, tebu, teh dan tarum, tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktek ekonomi hindia belanda yang diberlakukan oleh kolonialisme. Efek dari culture stelsel ini sampai terjadi dualisme ekonomi antara desa dan kota, perekonomian yang berjalan dengan lancer ditopah oelh keringat petani yang ada di desa.
Di masa penjajahan maraknya kelaparan yang dialami penduduk jawa akibat lahan yang dikuasai oleh kolonialisme untuk ditanami komoditi ekspor. Kemudian mengakibatkan perlawanan petani di berbagai titik di Indonesia. perlawanan tersebut menghasilkan kebijakan pemerintah mendirikan departemen pertanian untuk memperbaiki kondisi pertanian rakyat khususnya padi, ternak, perikanan dibawah naungan kebun raya.
Pasca Proklamasi pada tanggal 17 agustus 1945, Pemerintah Negara Indonesia masih dihadapkan pada warisan struktur kolonialisme yang masih ada, seperti hutang hindia belanda yang dibebankan kepada indonesia, tetap beroperasinya perusahaan-perusahaan asing multinasional raksasa dibidang perkebunan dan pertambangan, dan lain-lainnya. Kolonialisme berganti bentuk menjadi struktur lain yang tepatnya disebut neo-kolonialisme (kolonilalisme baru). Hubungan-hubungan sosial yang lama tetap berlangsung dan tidak dapat diganggu gugat oleh pemerintah, hal ini menyebabkan pemerintah tidak dapat membuat suatu rancangan besar (Grand Design) pertanian yang jelas dalam memecahkan warisan struktural kolonial.
Soekarno memang cepat dan tanggap dalam urusan pertanian,tetapi indonesia yang pada tahun 1945 belum stabil juga menjadi tantangan soekarno untuk mewujudkan swasembada beras, program pertanian yang dirancang untuk swasembada beras mengalami kontreversi di kalangan masyarakat itu sendiri, pasalnya hanya kalangan tuan tanah saja yang mendapatkan keuntungan besar akan tetapi buruh tani selamanya menjadi buruh tani, reforma agraria dengan diterbitnya UUPA tahun 1960 menjawab tantangan tanah yang menjadi kontroversi, tanah yang mulai dibagi rata pada masyarakat indonesia oleh pemerintah belum merata, indonesia mengalami krisis moneter yang mengakibatkan ketidak percayaan masyarakat pada pemerintah, hanya sedikit kalangan saja yang mengerti masalah bahwa indonesia harus menebus Papua dengan membayar hutang dalam perjanjian KMB.

Masa pertanian pada jaman soeharto, pada awal jaman soeharto pembangunan salah satunya difokuskan pada sektor pertanian mengingat penduduk indonesia hidup dari sektor pertanian, ditandai dengan Revolusi hijau(perubahan fundamental dalam pemakaian tekhnologi budidaya pertanian) pada tahun 1970an sampai 1980an, meskiipun pada awal revolusi hijau indonesia menjawab kebutuhan pangan indonesia namun keberhasilan itu bukan tanpa dampak dan efek samping yang jika tanpa pengendalian, dalam jangka panjang justru mengancam kehidupan dunia pertanian.

Pada tahun 1980an gebrakan revolusi hijau sangat dirasakan oleh petani dengan pemerintahan mengkomando penanaman padi, yang wajib menggunakan benih impor, pupuk kimia, pestisida, dll. Hasilnya indonesia menikmati swasembada beras, akan tetapi pada tahun 1990an petani mulai kebingungan menanggapi efek dari penggunaan kimia pada tanahnya, ditandai dengan maraknya hama, tanah mengeras hingga tingkat kesuburannya berkurang, lebih lebih harga gabah dikelola oleh pemerintah.
Pada tahun 1992 pemerintah menerbitan UU SBT (sistem budidaya tanaman)yang dinilai banyak merugikan petani kecil, dikarenakan salah satu pasalnya melarang petani kecil mengumpulkan plasma nutfah, dalam hal ini berbentuk benih lokal untuk dilestarikan serta disebarkan pada petani lain, petani yang melanggar akan dikriminalisasi, terhitung sejak tahun 2005-2010 ada 15 petani kecil yang dikriminalisasi akibat menyebarkan benih yang tanpa lebel tersebut.(M Rifai API).
UU yang menjerat petani tersbut sangat bertentangan dengan cita cita bangsa, bertentangan dengan UUD 1945, maka dari beberapa kalangan mengajukan JR kepada MK pada tahun 2012 hingga JR tersebut dimenangkan oleh petani, dengan keluarnya keputusan MK nomor 99/PUU-X/2012.

Pada hari pangan dunia 2019 ini Indonesia telah menciderai kedaulatan pangan itu sendiri, pasalnya indonesia telah mengesahkan uu SBPB(Sistem Budidaya Pertanian Bekelanjutan) yang di dalam pasal 2 hingga akhir tidak ada kalimat berkelanjutan sama sekali, pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang terintegrasi dengan tepat, mulai benih, pupuk, pestisida, saluran irigrasi, hewan ternak, sedikit tentang pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang daulat benih memiliki benih sendiri dan dilestarikan sepanjang mereka bertani, benih yang bisa ditanam ulang, kotoran hewan yang bisa dijadikan pupuk, pestisida yang tidak merusak unsur unsur unsur senyawa organik lainnya.
Akan tetapi pemerintah dengan menerbitkan UU SBPB pada pasal 21, 23, dan 29 telah menghidupkan kembali semangat UU SBT yang merugikan petani, petani akan dilarang kembali untuk menanam dan menyebarkan benih lokal mereka. Semangat kedaulatan pangan dalam hal ini lagi lagi dibungkam oleh kepentingan pemilik perusahaan benih yang selama ini pasar edarnya adalah petani, mengingat kembali revolusi hijau adalah semangat para korporasi yang terus memeras petani sebagai pangsa pasar produk mereka.

Maka dengan tema apapun hari pangan dunia tahun ini merupakan peringatan bahwa petani indonesia sedang tidak baik baik saja, mengingatkan bahwa kebutuhan pangan Indonesia bukanlah cita-cita bersama melainkan cita cita kepemerintahan yang ingin menguasai seluruh petani indonesia yang nantinya penanaman akan diatur dalam pasal 5 ayat 5 oleh pemerintah pusat, provensi hingga daerah.

Selamat hari pangan dunia petani indonesia, selamat atas kado UU SBPB yang diberikan oleh pemerintah. Selamat akan perjuangan panjang kembali atas kedaulatan benih kalian, atas perjuangan kedaulatan pangan kalian. Generasi tidak perlu pangan sehat untuk cerdas, memikirkan masalah yang ada di indonesia akan cerdas dengan sendirinya.

Penulis : Anas Mahfud

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan