Ketika Seluruh Negeri Runtuh, Carilah Guru Yang Tersisa

Read Time:2 Minute, 8 Second

Senin kliwon, 6 Agustus 1945, cuaca dingin menyelimuti negeri matahari. Di musim panas waktu itu, dingin suhu pagi mampu membacok perut anak-anak yang masih belum terisi. Tak banyak yang bisa dimakan. Ladang-ladang gersang, tanaman pokok meranggas, uap bau humus tanah berganti amis keringat petani. Masa paceklik akibat perang panjang telah menyerang rasa lapar anak-anak seperti digambarkan dalam film anime “Barefoot Gen” (1983).

Pagi itu belum juga semua anak-anak terbangun, tetapi suara pesawat tempur di atas langit Hiroshima meraung-raung bak genta raksasa yang memecah genderang telinga. Tepat pukul 08.15 bom atom meluncur dari pesawat tempur Amerika meluluh-lantakkan Hiroshima yang muram, lalu hancur seketika.

Anak-anak yang lapar itu tewas bersama 70 ribu penduduk sipil dalam serangan bom pagi itu, dan 80 ribu tiga hari kemudian di Nagasaki, 9 Agustus 1945. Jepang, “Sang Cahaya dari Timur”, itu jatuh, dan moral penduduk seketika runtuh.

Sekutu riang bersorak mengira Jepang sudah tamat. Ternyata, tidak. Masih ada harapan tersisa. Di antara puing-puing dan ribuan mayat yang berserakan itu berdiri Kaisar Hirohito, berpidato di depan para jenderal dan kaum terpandang menginstruksikan segera bangun kembali Jepang dengan segolongan orang spesial yang masih tersisa. “Carilah guru-guru yang masih hidup. Bangunlah kembali Jepang dari pundak mereka!” katanya dalam pidato penuh emosi.

Dengan jarak lebih dari 6000 km dari Hiroshima, di barat daya nun jauh di Jakarta, Indonesia memerdekakan diri. Dengan usia membangun negeri hampir sama, Jepang telah melesat jauh meninggalkan kita. Hirohito sangat tahu caranya. Ia tak melakukan harakiri setelah kehancuran itu, justru mencari pendidik di antara puing-puing. Kehancuran itu tidak mengakhiri, justru baru dimulai.

Anak-anak kecil yang dulu kelaparan itu sebagian menyusul orangtuanya yang tewas bak serpihan daging dihantam bom. Tapi, sebagian lagi masih hidup dan menjadi saksi sejarah. Dengan cucuran air mata mereka mengisahkan semangat rakyat di tengah tenaga yang hampir habis melawan kehancuran bersama guru-guru yang masih tersisa. Mereka bergotong-royong membangun kembali negeri matahari dengan spirit dan teknologi. Dan tak pernah dilupakan kengerian pagi di Hiroshima yang dingin dan muram itu sampai hari ini. Sedangkan, di sini kita lebih sering melupakan diri.

Kisah Hiroshima dan Nagasaki mengingatkan kota yang sejak 23 tahun lalu saya tinggali. Kudus yang damai dan belakangan ramai oleh isu suap dan korupsi. Memetik pelajaran jauh sebelum dan supaya kota ini tidak hancur bukan oleh bom, tapi moral yang runtuh melebih bom. Kita butuh Hirohito itu di sini. You must be the change you wish to see in the world, jadilah perubahan yang ingin Anda lihat di dunia, demikian Gandhi.

Salam Dongeng!
Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan