Menonton Bakat Anak Dalam Imajinasi Eksploitasi

Read Time:4 Minute, 43 Second

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menuduh Persatuan Bulutangkis (PB) Djarum telah mengeksploitasi anak dalam audisi calon-calon atlet bulutangkis di beberapa kota. Atas asumsi itu KPAI memerintah PB Djarum untuk menghentikan audisi. Saya mencari sumber-sumber media dan belum menemukan alasan dan bukti untuk apa yang dituduhkan KPAI sebagai eksploitasi. Karena itu saya menyebut putusan itu sementara sebagai tuduhan dengan alasan masih asumsi.

Saya coba memahami jalan pikiran KPAI dengan membandingan putusan lembaga peradilan di Indonesia yang secara hukum berwenang memroses dan menghukum tindak pidana, mulai Polri, Kejaksaan RI, Pengadilan Negeri, bahkan KPK. Coba bayangkan mereka menghukum masalah pidana dengan satu asumsi seperti KPAI menghukumi PB Djarum, bolehkah?

Di tengah memahami sikap KPAI, tiba-tiba seorang teman memberitahu saya sesuatu yang akan mengejutkan kita semua. Pernah dalam rentang tiga tahun KPAI atau National Commission for Children Protection (NCCP) mendapatkan support dari lembaga anti rokok dunia yang dananya bersumber dari perusahaan farmasi global bernama Bloomberg Initiative. Tercatat dalam laporan lembaga itu KPAI disupport untuk tiga program berkaitan dengan kampanye larangan total (langsung/tidak langsung) industri rokok, baik iklan, promosi maupun sponsor, demi perlindungan hak anak. KPAI juga meminta dukungan politik dan masyarakat untuk kepentingan itu.

Bloomberg Initiative adalah lembaga semacam LSM atau yayasan berkantor pusat di Amerika. Bloomberg sendiri diambil dari nama mantan walikota New York tiga kali. Teman saya yang lain memberi tahu melalui buku hasil risetnya, Bloomberg pemilik saham salah satu perusahaan farmasi global, penyokong lembaga itu.

Atas dua sikap KPAI itu, muncul berbagai pertanyaan di kepala saya: apakah yang dilakukan KPAI murni sebagai gerakan perlindungan anak atau untuk kepentingan (perusahaan) asing? Bolehkah KPAI sebagai lembaga negara menerima dana dari lembaga (semacam LSM) luar negeri dalam menjalankan fungsi-fungsi kenegaraannya? Sebuah pertanyaan hanya KPK yang paling berhak menjawabnya.

Bolehkah sebuah lembaga pelindung membuat keputusan tanpa dia sendiri melindungi dirinya dengan alasan dan bukti yang berpeluang digugat secara hukum di negara yang menjunjung tinggi hukum dan keadilan? Sebagai lembaga yang memiliki ijin berbeda, bisakah disamakan antara PB Djarum, Djarum Foundation dengan PT Djarum?

Di layar televisi yang dipasang di gazebo tempat saya dan para petani bercengkerama, saya menonton adegan anak-anak dalam iklan dan film. Muncul di kepala saya berbagai pertanyaan baru: termasuk adegan eksploitasikah anak-anak yang menerima uang dari peran profesional mereka sebagai bintangnya? Sebab, saya tahu para talenta yang belum wajib mencari nafkah itu di hadapan DoP dan sutradara wajib bersikap profesional sesuai tuntutan peran, termasuk antara lain mengikuti pola-pola profesionalisme orang dewasa dalam membuat iklan dan film. Posisi mereka di depan kamera dapatkah dikategorikan eksploitasi? Siapa yang pernah bergelut di dunia iklan dan film akan paham situasi itu.

Di tevisi di dalam gazebo itu juga saya dan para petani menonton liputan audisi sepak bola untuk kategori usia anak dan remaja dengan pengaturan waktu yang sangat ketat. Apakah kami juga bisa menyebut itu adegan eksploitasi? Di televisi yang kadang layarnya mati tiba-tiba itu saya dan para petani menghibur diri dengan menonton audisi para talenta penyanyi Indonesian Idol, X-Factor, D’Academy, dan semacamnya yang usianya 17 tahun ke bawah. Apakah ini juga eksploitasi?

Saya membuka sumber-sumber media untuk mengetahui adakah sikap kritis dan kesetaraan KPAI untuk berbagai auidisi itu, dan ternyata sunyi. Kita tahu belum ada LSM atau yayasan di dunia dengan dana cukup memadai menyupport untuk setiap masalah yang muncul di sepak bola, iklan dan lomba menyanyi anak-anak ini kecuali yang berhubungan dengan rokok.

Terbayang di tengah berbagai pertanyaan itu muncul wajah Liem Swie King, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Tontowi Ahmad, Kevin Sanjaya dengan cucuran keringat saat bertanding, juga nama-nama terkenal lain yang masih hidup dan dulu semasa kecil dengan penuh ceria berlatih bulu tangkis, saat dewasa membawa harum nama Indonesia dengan dukungan profesional PB Djarum. Mereka mungkin tidak bisa lagi melihat anak-anak kecil di berbagai kota ceria mengikuti audisi PB Djarum dan menikmati masa berlatih dan bertanding setelah itu.

Hari ini media nasional memberitakan pengakuan mantan atlet bukutangkis PB Djarum Haryanto Arbi, yang makin mengagetkan saya akan imajinasi eksploitasi. Oke, kita tahu dia kaya oleh prestasi dan bisnisnya. Tapi, apa kesimpulan Anda atas pengakuan ini: “Saya sering membawa pulang ransum atlet yang sangat bergizi semasa latihan untuk dimakan bersama keluarga saya yang miskin. Dan, “Pecat!” katanya menceritakan atlet anak yang ketahuan merokok setelah sebelumnya diperingati.

Di luar negeri yang sangat ketat memagari pengaruh rokok, kata Arbi, mereka bisa membedakan antara PB dan pabrik rokok, dan tidak menganggap keduanya identik. Karena itu, PB Djarum dibolehkan memampangkan namanya dan diberi vanue untuk memromosikan diri.

Sebelum Anda menolak cerita saya, ada baiknya lebih dulu mengamati dunia musik kita. Sejak industri rokok dilarang mendukung promosi dan sponsor oleh Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012, sejak itu dinamika musik di Indonesia turun. Dulu semua pihak dengan berbusa-busa meyakinkan publik, peran industri rokok pasti akan digantikan oleh industri lain. Tetapi, tujuh tahun sudah busa-busa itu tidak berbuih sama sekali, dan hilang sekarang panggung musik di kota-kota.

Kita semua setuju upaya perlindungan anak dari eksploitasi, tetapi sekaligus setuju dengan kemerdekaan anak dan keluarganya memilih talent, bakat dan passion untuk apapun olah raga termasuk bulutangkis. Tepukan yang sudah mengharumkan nama bangsa lebih setengah abad ini oleh yang dulu pemenangnya direkrut dengan audisi sederhana saat anak-anak.

Atau mungkin saya salah. Jangan-jangan saya tidak tahu KPAI sedang menyusun ide brilian selain sekedar melarang dan menghentikan melalui asumsi dan imajinasi pengembangan bakat anak ini. Melalui KPAI perlindungan dan pengembangan bakat anak mungkin sedang diperjuangkan dan bisa menggantikan peran audisi.

Tetapi, kalau KPAI hanya menjawab, “Saya sekedar menjalankan UU,” yang sebetulnya hanya tepat diberlakukan bagi pabrik rokok, bukan PB Djarum, saatnya saya dan para petani di gazebo ini mengucapkan bye-bye kejayaan bulutangkis Indonesia.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Omah Dongeng Marwah

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan