PERCAKAPAN DENGAN BJ HABIBIE: Mulai dari Soal Bredel ‘Tempo’ hingga ‘Kudeta Prabowo’

Read Time:7 Minute, 11 Second

Ia menjadi tamu yang kuwawancarai 1 jam lebih dalam ‘talk-show’ di ulang tahun AJI ke-19 yang digelar di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, pada Kamis, 29 Agustus 2013. Saat itu nama baiknya telah kian pulih terutama berkat film ‘Habibie & Ainun’ yang diluncurkan di penghujung 2012. Sebelumnya ada anggapan bahwa ia menyingkir ke Jerman setelah tak lagi menjadi kepala negara.

Majalah ‘Tempo’ dibredel karena Pak Habibie. Betulkah? Katanya Bapak marah gara-gara berita pembelian kapal perang Jerman Timur dan kemudian mengadu ke Pak Harto. Bredel pun terjadi,” ucapku ke Pak BJ Habibie saat memulai percakapan di atas panggung.

Penguasa Orde Baru membredel majalah ‘Tempo’ pada 21 Juni 1994. Waktu itu laporan utama majalah terkemuka tersebut ihwal pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur. Intinya, sudah mahal (US$480 juta; turun dari US$760 juta), mutunya rendah sehingga ada yang nyaris tenggelam dalam pelayaran menuju Indonesia.

Isu yang berkembang tak lama setelah bredel terjadi adalah: Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bacharuddin Jusuf Habibie berang akibat berita miring ‘Tempo’. Ia lantas mengadu ke patron yang sangat mengasihi dan memanjakannya, Presiden Soeharto. Melihat kegundahan ahli konstruksi pesawat yang beroleh doktor dari Universitas Aachen, Jerman, Kepala Negara bertindak. Ia menyuruh Menteri Penerangan Harmoko memberangus ‘Tempo’, berikut ‘Editor’, dan ‘DeTIK’.

Di paruh pertama 1990-an itu pendulum politik telah bergeser. Presiden Soeharto semakin memberi tempat ke kelompok Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI, berdiri pada 7 Desember 1990) dan para jenderal ‘hijau’ pendukung organisasi ini (Panglima ABRI Feisal Tanjung; Kassospol ABRI yang sejak 1995 menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, Raden Hartono; Kepala Pusat Penerangan ABRI, Syarwan Hamid; dan yang lain).

Pada sisi lain, kubu ‘merah-putih’-nya Jenderal Benny Moerdani kian tersisih. Di sana ada Try Soetrisno, Edi Sudradjat, Sintong Panjaitan, Theo Syafei, Sahala Rajagukguk, dan yang lain. Luhut Binsar Panjaitan yang masih perwira menengah, menjadi bagian dari mereka.
Sebagai penentang keras Leonardus Boenyamin Moerdani (Benny Moerdani), Komandan Grup 3 Kopassus (Cijantung) Letkol Prabowo Subianto yang merupakan menantu Jend. (Pur) Soeharto menjadi bagian penting dari ABRI ‘hijau’.

Pada Juni 1994 Fikri Jufri telah menjadi pelaksana Pemimpin Redaksi majalah ‘Tempo’ meski di ‘masthead’ (daftar susunan redaksi) masih nama Goenawan Mohamad yang mucul. Secara pribadi ayah fotografer Kemal Jufri itu dekat dengan Benny Moerdani. Realitas ini menggusarkan ICMI-kelompok ‘jenderal hijau’.

Dalam penilaian mereka kemudian, ‘Tempo’ sudah ‘ke-Benny-Benny-an’. Tidak netral lagi seperti di zaman kepemimpinan Goenawan Mohamad yang 23 tahun. Kabarnya, mereka pernah meminta agar jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jago lobi, dan salah satu pendiri ‘Tempo’ tersebut diganti sebagai Pemred. Sebagai catatan, di redaksi mingguan ini juga ada kalangan yang dekat dengan ICMI-‘ABRI hijau’ dan bahkan ada yang menjadi ‘orangnya Prabowo’.

Tatkala mingguan yang sempat disoal majalah ‘TIME’ dengan tuduhan menjiplak mereka—memang selain nama, perwajahan dan rubrikasi juga mirip—kemudian, pada edisi 11 Juni 1994, menurunkan ‘cover story’ berjudul ‘Habibie dan Kapal itu’ muncul anggapan bahwa pendiskreditan kubu BJ Habibie sedang dilakukan pihak lawan.

“Tidak benar! Tidak benar gara-gara saya Tempo dibredel. Saya sendiri terkejut,” Pak BJ Habibie menyahuti aku. Di panggung malam itu ia lantas bercerita dengan bersemangat, seperti biasanya. Intinya?

Dirinya baru saja pulang dari Jerman tatkala bredel terjadi. Setiba di Jakarta ia bergegas ke Cendana untuk menghadap dan bertanya ke Presiden mengapa ‘Tempo’, ‘Editor’, dan ‘DeTIK’ diberangus.

Presiden Soeharto menjawab dengan enteng: ketiganya mengadu domba rakyat dengan pemerintah.

“’Iya, tapi kenapa harus dibredel?” Mereka itu orang-orang pintar dan kritis’, tanya saya. Lalu Pak Harto kembali menjawab. Singkat saja, ‘Tapi saya sudah tanda tangan.’”

Hadirin di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, tertawa. Karena surat pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers-nya (SIUPP) ‘kadung’ sudah diteken maka ‘Tempo’, ‘Editor’, dan ‘DeTIK’ harus mati! Lucu sekaligus ironis, tentunya.

Pak Habibie menyatakan dirinya tidak bersangkut paut dengan bredel dan tak tahu-menahu soal ‘mark-up’ pembelian kapal Jerman Timur. “Kalau saya masuk wilayah-wilayah tempat orang bisa memanipulasi atau mendistorsi, pesawat terbang saya jatuh, kapal saya tenggelam,” ucapnya dengan jenaka.

Hadirin kembali tertawa.

‘KUDETA PRABOWO’
Dalam perbincangan itu kusempatkan mengkonfirmasi apa yang pernah kami beberkan di majalah kami, ‘D&R’, terkait manuver Letjen Prabowo Subianto di saat sang ahli konstruksi pesawat baru saja menjadi presiden RI yang ke-3.

“Benarkah Pak Prabowo membawa pasukan ke rumah Bapak di Kuningan untuk menekan? Kalau benar, apa sesungguhnya yang ia kehendaki dan apa yang terjadi kemudian?”

“Benar! Bukan sekali itu saja ia datang dengan pasukan. Ia juga ke Istana. Tiga kali ia mencoba mengkudeta saya. Tapi saya punya sistem pengamanan yang sangat baik…Saya beruntung punya Pak Sintong Panjaitan.”

Ia lantas mengisahkan seperti apa kejadian yang menegangkan yang melibatkan dirinya dengan jenderal berkarir meteorik yang sebelumnya sangat dekat dengannya. Inti masalah, menurutnya, adalah sang menantu Presiden kecewa karena bukan dirinya yang kemudian menjadi orang nomor satu di angkatan bersenjata melainkan tetap Jenderal Wiranto.

Suatu waktu, menurut dia, Letjen Prabowo membawa pasukan bersenjata lengkap ke kediaman Presiden di Kuningan. Rencana tentang manuver itu telah bocor lebih dulu sehingga penasihat militer Presiden, Letjen (purn.) Sintong Panjaitan, pun mengatur strategi.

“Pak Sintong membuat garis tipis di ruang tamu. Ke saya dia bilang kemudian, ‘Bapak sampai di sini saja nanti waktu menerima Pak Prabowo; tidak boleh lewat.’ Saya tanya mengapa hanya boleh sampai sini. ‘Penjelasannya panjang..nanti saja, nggak ada waktu. Pokoknya Bapak ikuti dulu,’ jawab dia. Saya pun patuh karena ‘toh’ Pak Sintong yang ahli strategi militer; saya kan ahli bikin pesawat.”

Tertawa lagi hadirin.

Rombongan Letjen Prabowo tiba sesuai dengan informasi yang telah bocor. Panglima Kostrad itu, menurut BJ Habibie, menerobos begitu saja Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Ia baru menghentikan langkah begitu melihat mantan atasannya di baret merah, Sintong Panjaitan, muncul.
Dialog kedua bintang baret merah kemudian berlangsung. Isinya, menurut Pak Habibie, kira-kira seperti berikut.

“Jenderal ada keperluan apa?’

“Mau bertemu Pak Presiden.”

“Sudah janji?”

“Belum.”

“Saya tanya Pak Presiden dulu, diterima atau tidak.”

Sintong lantas masuk ke dalam rumah.

“Dia memberi isyarat agar saya melangkah ke ruang tamu tapi jangan sampai lewat garis. Waktu mau melangkah rasanya berat, padahal sebelumnya sudah berlatih. Saya berjalan sambil terus melihat garis. Saya berhenti tepat di belakang garis,” lanjut Pak Habibie dengan nada yang kocak. Hadirin tentu saja kembali gerrr…

Sintong memersilakan juniornya itu masuk tapi dengan syarat: tanpa senjata dan semua pasukannya harus dimundurkan.
Letjen Prabowo kemudian masuk ke ruang tamu. Dialog dengab Presiden berlangsung. Bunyinya kira-kira seperti berikut.

“Ada keperluan apa?”

“Saya mau menyampaikan sesuatu…”

“Urusan dinas bukan?

“Bukan.”

“Lain kali saja. Saya sedang sibuk, tidak ada waktu.”

Letjen Prabowo pun berbalik langkah dengan berhampa tangan.

Pak Habibie menganggap kedatangan Letjen Prabowo dengan pasukan bersenjata lengkap ke Istana dan rumah di Kuningan sebagai upaya makar.

Setelah konfrontasi itu Letjen Prabowo ternyata terpental. Ia dicopot sebagai Panglima Kostrad, pada 23 Mei 1998 atau sehari setelah BJ Habibie dilantik menjadi kepala negara. Permintaannya agar diberi waktu 3 bulan untuk tetap memimpin Kostrad ditolak Presiden. Menjadi Komandan Staf dan Komando ABRI, ia ditugasi. Pembuangan, tentu.

Proses penggantian Pangkostrad unik, kala itu. Untuk kali pertama dalam sejarah Indonesia merdeka terjadi pengalihan jabatan yang pernah diduduki Letjen Soeharto ini sampai 3 kali tak sampai 24 jam.

Jumat 22 Mei 1998, dalam acara yang tertutup untuk pers di markas AD, jabatan Pankostrad dialihkan dari Letjen Prabowo Subianto (lulusan AKABRI tahun 1974) ke Mayjen Johny Lumintang (alumni AKABRI 1970). Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jend. Subagyo waktu itu hanya mengatakan, “Semua berlangsung resmi dan sah.”

Sabtu (23 Mei) dini hari keadaan di jantung ibukota sangat mencekam. Suasananya seperti bakal terjadi perang besar. Ratusan pasukan Kostrad, Penanggulangan Huru-Hara (PHH) Kodam V Jaya, dan Kopassus bersiaga dengan senjata lengkap di beberapa tititk termasuk di sekitar Istana Merdeka, Jl. Thamrin, Menteng, dan Jakarta Kota.

Pada pukul 02.30 panser dan kendaraan berat milik Kondam V dan Kostrad mulai ditarik dari jantung kota. Keadaan normal kembali sejak pukul 04.00 setelah pasukan Kostrad dan PHH pulang ke barak.

Sabtu, pukul 11.00, masih di Markas Kostrad, Mayjen Johny Lumintang menyerahkan jabatan Pangkostrad ke Mayjen Djamari Chaniago (lulusan AKABRI 1971).

“Mengapa sampai 3 kali alih jabatan Pangkostrad? Aneh betul! Dan Jakarta waktu itu seperti mau perang,” kataku.

“Iya…kita sengaja mengulur waktu supaya bisa mengkonsolidasikan kekuatan. Saat itu yang menjadi Panglima TNI Pak Wiranto, tapi secara faktual dia tidak menguasai pasukan. Pak Prabowo yang mengendalikan pasukan,” jawab Pak Habibie. Penjelasan lantas ia berikan.

Letjen Prabowo ternyata menolak jabatan Komandan Staf dan Komando ABRI. Seperti mengulangi sejarah ayahnya tercinta, begawan ekonomi Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang menentang secara terbuka Presiden Soekarno, ke luar negeri kemudian ia berkelana. Setelah itu lama tak terbetik kabarnya.

P. Hasudungan Sirait

*Tulisan hasil pengayaan ini kusajikan sebagai kenangan
untuk Pak BJ Habibie yang yang berkalang tanah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, sejak tadi siang.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan