Story Behind A Shrimp

Read Time:2 Minute, 40 Second

Banyak anak tak tahu cerita di balik makanan dan mainan yang mereka sukai. Sudah lama mereka dibiarkan menikmati kedua barang itu tanpa diajari untuk paham proses kreasinya.

Di sekolah Omah Dongeng Marwah (ODM) anak-anak dikenalkan kisah di balik peristiwa. Disebut “story behind a shrimp” atau kisah di balik udang. Diadaptasi dari pepatah “ada udang di balik batu”. Secara onomatope penamaan ini serupa “story behind the scene”. Mari kita pahami soal ini lebih sabar dengan membaca kisah berikut ini.

Dulu ketika belum banyak makanan pabrik mengisi ruang tamu dan warung di sekitar rumah kita, kue yang kita konsumsi adalah made in dapur sendiri dan anak-anak melihat langsung pembuatannya bahkan terlibat. Orang menyebut penganan itu jajanan pasar atau kue kampung. Ada lupis, putu mayang, serabi, jepit, semprong, rengginang, cenil, rempeyek, sagon, ampyang, dan berbagai kue lain dengan nama berbeda di setiap daerah.

Inovasi datang mengubah rasa, cara mengolah, membungkus, dan mengonsumsinya menjadi serba praktis dan menarik. Air mineral yang awalnya dianggap aneh diperjualbelikan dalam botol, sekarang jadi barang bawaan wajib kaum pedestrian dan pelancong. Di setiap pesta, air mineral dalam gelas plastik juga disajikan oleh sang sohibul hajat.

Mainan juga begitu. Ada mobil-mobilan terbuat dari kayu, senapan dari pelepah pisang, perahu dari pelepah mangir, congklak, yoyo, gasing, ketapel, dan layangan. Juga game gobak sodor, egrang, tarik tambang, lompat tali, ular tangga, petak umpet, engklek, kelereng, sepak bola kancing. Mainan sebanyak itu hampir bisa diproduksi sendiri dan mengolah fisik menjadi sehat sekaligus ruang learning of teamwork anak-anak.

Begitu jauh intervensi teknologi membuat kue pabrik dan game tak lagi terjangkau tangan mereka untuk meniru dengan cara sederhana. Tempat pembuatannya pun dijauhkan dari ruang main anak-anak. Masifikasi produk membuat hanya orang dewasa yang boleh ada di dalam pabrik-pabrik itu. Anak-anak sangat akrab dengan barang dan mainan itu, tetapi sekaligus asing dengan proses kreasinya.

Mesin dan teknologi bukan kesalahan. Ia bagian dari peradaban. Zaman berubah, teknologi berkembang, tetapi cara pandang orang dewasa terhadap perubahan itu tetap tak berubah. Upaya mengajari anak-anak untuk tetap kreatif juga tak disiapkan. Agresifitas teknologi ditambah spirit kapitalisme yang menyusup di balik penciptaan alat sering diabaikan orang dewasa.

Pernahkah misalnya kita mengajak anak-anak membongkar mainan mereka untuk mengetahui kinerjanya? Kita tiru lalu buat sendiri dalam bentuk lain? Soal setelah itu makin berantakan masih lebih baik daripada menawarkan kepada mereka barang baru. Kita lupa pelajaran pertama pada teknologi adalah pertanyaan: “bagaimana cara kerjanya? Cara memerbaikinya?”

“Story behind a shrimp” mengembalikan daya bertanya anak tanpa pantangan. Setelah mengikuti model ini, ada anak yang tak mau lagi membeli kue pabrikan setelah tahu hanya sedikit nutrisi penting untuk tubuh yang dikandung kue itu. Ada anak kelas 4 SD mulai lancar menghitung setelah bermain cangklok sambil menyebut angka setiap memasukkan kerang plastik dalam 15 lubang yang diisi. Ada anak kelas 3 SD mulai bisa membaca setelah sering membuka cerita bergambar yang paling menarik dari daftar buku dongeng di perpustakaan ODM.

Anak-anak berani bertanya dan berpendapat asal ruang kemerdekaannya diberikan seluas-luasnya. Kita cukup menjadi pendengar dan teman setia mereka saja. Jangan pernah ragu untuk mencoba. “Story behind a shrimp” akan membawa kita menemukan ada udang di balik cerita dan anak-anak sangat lahap memakannya.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Omah Dongeng Marwah

Foto: Kompasiana

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan