Apabila NU Baik Maka Insyaallah Indonesia Akan Baik

Read Time:4 Minute, 52 Second

Musyawarah para ulama’ NU dilaksanakan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dalam wadah silaturrahim dzurriyah masyayikh, habaib dan ulama’ se Jawa Timur, dengan tema “Menegaskan Pengertian Khittoh” kemarin (21/11/19).

Kegiatan tersebut ditempatkan di Auditorium Putra Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Sejak pukul 07:00 WIB. para peserta dan undangan sudah mulai berdatangan ke lokasi acara. Namun, pada pukul 09:45 WIB. kegiatan baru di mulai dan di buka secara resmi dengan pembacaan surat Al-Fatihah secara serentak oleh semua peserta musyawarah.

Dalam acara yang ke dua, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dibacakan oleh salah satu Qari’ di depan para ulama’ yang hadir saat itu. Kemudian, sambutan atas nama komite khittoh dengan di wakilkan oleh Prof. DR. Romat Wahab, M. Pd. menempati acara yang ke tiga. Lalu acara seremonial di tutup dengan pembacaan do’a oleh KH. Afifuddin Muhajir, M. Ag.

Beberapa menit berselang, khutbah iftitah di sampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy, MH. Sebelum cara pleno pertama di mulai, mereka membacakan surat Al-Fatihah kedua kalinya. Selanjutnya, pada pleno pertama di lakukan pemaparan pokok-pokok pikiran dari para masyayikh dengan di moderatori oleh Prof. DR. Ahmad Zahro, MA. Sementara itu, Prof. Zahro dalam khutbah iftitahnya sebelum pemaparan pokok-pokok pikiran oleh para masyayikh, beliau membacakan paparan data posisi orang-orang NU di berbagai partai politik diantaranya: Perindo (24%), PPP (6%), PSI (1%), PAN (5%), Hanura (2%), Demokrat (8%) dan PKB (15%). Setelah itu, beliau mengutip dawuh salah satu pahlawan nasional sekaligus pendiri dan pengasuh ke dua Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yaitu KHR. As’ad Syamsul Arifin, dengan mengatakan “NU tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana,” lanjutnya.

Dalam pleno pertama itu ada 5 pembicara yang akan memaparakan pokok pikirannya mengenai permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di tubuh NU, diantaranya: KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, KH. Salahuddin Wahid, Ustadz Hikni ash-Shiddiqi, KH. Afifuddin Muhajir, dan Prof. DR Rohmat Wahab.

Dalam paparannya Prof. DR. Rohmat Wahab M.Pd. menyampaikan “Ketika NU meninggalkan khittoh, maka akan disusupi multi ideologi,” oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan perbaikan-perbaikan dalam tubuh NU agar kembali lurus sesuai cita-cita para Muassis dan pendiri Nahdlatul Ulama’.

Pleno kedua dilakukan dialog atau tanya jawab oleh seluruh yang hadir di acara tersebut, tidak tinggal diam beberapa peserta yang mendapat kesempatan untuk berbicara, langsung menyampakai pemikiran serta gagasan-gagasannya kepada para masyayikh, habaib dan ulama’ yang hadir saat itu. Setelah dialog berahkir, dilanjutkan dengan isoma (istirahat, sholat dan makan) selama dua puluh lima menit. Sementara sepuluh orang yang menjadi tim perumus tetap di tempat acara, untuk merumuskan hasil musyawarah yang telah dilakukan pada pleno pertama dan pleno kedua.

Tepat pukul 15:05 WIB seluruh peserta kembali ke tempat acara untuk mendengarkan hasil rumusan yang telah dirumuskan oleh tim perumus sebelumnya. Musyawarah tersebut menghasilkan sembilan rumusan, diantaranya: 1) Sebagai prinsip pergerakan dan pengabdian khittoh secara substansi, sejatinya sudah digariskan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yakni kembali pada garis perjuangan ulama’, salafunas sholeh. Sebagaimana do’a yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Untuk itu, khittoh sebagai garis perjuangan perlu diaktualisasikan kembali dalam ranah jam’iyah, diniyah wal islamiyah. 2) Melalui gerakan kultural ini, majelis silaturrahim mengajak kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama’ untuk selalu melakukan muhasabah terhadap fenomena ke-NU-an yang terjadi selama ini. Tindakan koreksi diri menjadi lebih bijak, karena tidak ada kesempurnaan dalam setiap diri manusia, selain koreksi diri kita semua juga memiliki kepedulian dan keberpihakan kepada jamiyah NU, agar menjalankan organisasi sebagai sarana ibadah, perjuangan dan pengabdian kepada Allah SWT. Jangan jadikan organisasi sebagai alat untuk memuluskan kepentingan pragmatis pribadi dengan menjauhkan prinsip perjuangan yang telah dibangun oleh para muassis Nahdlatul Ulama’. 3) Niat yang tulus dan ikhlas dalam memperjuangkan NU hanya mengharap target keridhoan Allah SWT. Jika diantara kita, baik yang menjadi pengurus maupun tidak, tindakan yang tidak sejalan dengan tradisi NU, maka tergurlah dengan benar dan sabar Watawa shoubil haq watawa shoubis shobri. 4) Permusyawaratan dalam tubuh NU sebagai jam’iyah harus mendasarkan pada prinsip dan nilai-nilai yang dibangun oleh para muassis, untuk mengembalikan prisip-prinsip permusyawaratan dalam setiap penyelenggaraan permusyawaratan di berbagai tingkatan, agar tidak menggunakan cara-cara yang tidak terpuji. Seperti mempengaruhi misyawirin dengan politik uang.

Fenomena-fenomena yang ada dalam setiap permusyawaratan, tentu tidak berjalan secara tunggal, ada keterlibatan pihak lain yang ingin memanfaatkan NU secara pragmatis. Jika ini masih terjadi dan terus di pertontonkan para pengrus, NU akan kehilangan wibawa dan karismanya sebagai jam’iyah, diniyah wal islamiyah. 6) Kepada seluruh warga NU yang berperan dalam politik dan penyelenggaraan pemerintahan, tetap istiqamah membawa amanah NU, sehingga NU tidak hanya menjadi alat perebutan kekuasaan, tapi harus bermanfaat secara maslahah. 7) Perlu memperkuat fungsi kelembagaan Mustasyar di jam’iyah Nahdlatul Ulama’, sehingga apabila terdapat penyalah-gunaan wewenang dalam jabata kepengurusan dapat dilakukan teguran dan sangsi oleh seluruh anggota Mustasyar. 8) Musyawarah silaturrahni ini, meminta agar kembali kepada posisinya ashabul haq, sementara ashabul qarar biar urusan di luar NU. 9) Menghimbau kepada seluruh warga nahdliyin, agar senantiasa istiqamah mengamalkan wirid, amaliyah para masyayikh dan muassis jam’iyah, terutama “Ya Jabbar Ya Qahhar” dengan niatan agar siapapun yang ingin merusak tatanan jam’iyah ini, mendapatkan keadilan dari Allah SWT.

Sementara itu saat konferensi pers bersama para awak media di kediaman pengasuh, Gus Aam menyampaikan, “Rumusan itu akan kami sampaikan kepada PBNU, PWNU dan PCNU,” ungkapnya. Beberapa kali beliau (Gus Aam) mendapat pertanyaan dari para awak media lantas beliau mengatakan “Apabila NU baik maka insyaallah Indonesia akan baik,” lanjutnya. Setelah pembacaan hasil rumusan musyawarah silaturrahim masyayikh, habaib dan ulama’ se Jawa Timur, acara di tutup dengan do’a. Setelah itu pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Memberikan cindera mata, kepada beberapa tokoh NU yang hadir dalam acara tersebut. Lalu semua peserta berfoto bersama di depan podium kehormatan, hingga berselang beberapa saat satu persatu para peserta silaturrahim mulai meninggalkan tempat acara.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan