Membuka Buku Sejarah Dari Ziarah 6 Kilometer

Read Time:4 Minute, 48 Second

Catatan dari klangenan di “Minggu Malam Wagen”

“Minggu Malam Wagen” di joglo Mas Prie Ge Es, 10 Nop 2019, lalu, telah membuat makna gagal dan sukses menarik didiskusikan, khususnya bagi aktifis IAIN (kini UIN) Walisongo Semarang dan para santri yang hadir malam itu.

Kedua frase itu konsisten mendiami ruang relatif, dan karena itu kepadanya selalu disandangi kata “merasa”, merasa gagal dan merasa sukses. Memang tidak ada parameter standar untuk mendefinisikan keduanya bagi lulusan IAIN waktu itu, sehingga ukuran profesionalnya tidak jelas. Bahkan rektor dan para dosen, saya menduga dengan banyaknya jurusan baru yang dibentuk waktu itu, jangan-jangan tak terlalu yakin dengan performa outputnya. Jurusan-jurusan itu, jika pun ada rumusan epistemologi dan ontologinya, tetap saja secara skill basis keahliannya di masyarakat masih belum afirmatif.

Dan anehnya, masyarakat, termasuk orang tua kami, sangat yakin menyekolahkan anak-anaknya di situ. Adonan antara sedikitnya pilihan perguruan tinggi berbasis studi Islam untuk meneruskan jenjang sekolah berikutnya setelah lulus SMA/aliyah, dengan fakta kebutuhan gelar sarjana di pasar kerja formal yang tersedia. Memang benar itu satu hal dan yakin satu yang lain lagi.

Ketika keduanya menunggu afirmasi faktual, penilaian kesuksesan oleh masyarakat diukur dari hal-hal pragmatis: seberapa tingkat jabatan yang disandang, kekayaan yang berhasil dikumpulkan, atau pengaruh khutbah dan nasihatnya seberapa berhasil menggerakkan moral umat. Dan ukuran kegagalan berada di sebalik ukuran-ukuran kesuksesan itu.

Capaian itu dalam banyak kasus tak berhubungan dengan relevansi jurusan yang dipilih mahasiswa ketika kuliah. Dan sebuah perguruan tinggi selama puluhan tahun berdiri masih bertahan menjadi sandaran cita-cita orangtua untuk anaknya, bukan saja unik, tetapi sekaligus aneh. Dan herannya, yang dianggap aneh itu justru menemui kebenarannya ketika dunia rasional yang dijalani milyaran manusia mulai berbalik menyerang standard keahlian yang dibangunnya sendiri. Serupa lupus yang over antibodi menyerang sistem ketahanannya sendiri.

Dunia disrupsi hari ini konon hanya menyilakan ruang berperan bagi kaum penyintas yang memiliki sikap terbuka (open mind), toleran, bersikap tak sepihak, kolaboratif. Dan pada akhirnya daya ahli dan daya mampu atas ilmu yang digelutinya selama studi akan terkoreksi oleh perubahan konten yang super dinamik itu.

Ilmu, karena sifatnya yang relatif, kini bukan lagi rumusan kebenaran. Ia hanya informasi bahkan mungkin data. Dan data, kata desruptor Nadiem Makarim, si “ahli masa depan” dan segolongannya, bersifat pasif dan mengenal masa berlaku. Ia akan dikoreksi setiap setidaknya lima tahun sekali. Menunjukkan kebenaran ilmu sangat relatif sifatnya. Makin relatifnya keahlian seseorang seahli apapun menggeluti suatu bidang jika tak berkolaborasi dan adaptif.

Ini sangat aneh dan rasanya sampai miring otak saya memahaminya tetap tak bisa paham. Kecuali orang-orang yang sedari awal konsisten meyakini bahwa hanya orang baik dan adaptif saja yang bisa mengikuti perubahan zaman ini. Dan jika jurusan-jurusan studi yang dibangun di IAIN saat itu adalah kesalahan, ia menjadi benar di kemudian hari. Ini seperti seni miringnya menara Eifel di Prancis, yang ketika dibiarkan kesalahan-kesalahan teknisnya malah benar secara kesenian di kemudian hari. Menunjukkan imu adalah art, ia hanya bisa digeluti dengan dedikasi yang sangat tinggi.

Tetapi, dalam konteks perubahan sosial, ilmu bukan lagi sekedar data. Ilmu dalam proses menggelutinya selalu mengalami transformasi ideologi, yang atas itu muncul perspektif. Proses mahasiswa memelajari dan mendapatkan ilmu selain butuh diskusi, debat, juga praktek, yang secara tak sadar menjadikan ilmu suatu mazhab pergerakan.

Jauh sebelum alarm industri 4.0 dibunyikan, gerakan mahasiswa yang mengritisi kekuasaan Orba pada akhir 80an dan awal 90an di mana kami terlibat waktu itu, sudah memraktekkan pola disrupsi. Mahasiswa antarjurusan dan fakultas dari berbagai perguruan tinggi berkolaborasi dalam aksi. Dalam konteks desrupsi, hub-nya demonstrasi, kontennya keadilan, penindasan rakyat dan penegakan HAM dan demokrasi.

Di antara mahasiswa yang bergerak itu ada sekawanan anak muda tengil dari IAIN Walisongo, yang 28 tahunan lalu menembus malam melewati bukit terjal tak berhutan berjarak 6 km dari Jrakah menuju Perum Pasadena, rumah Mas Prie GS waktu itu. Anak-anak muda berlatar belakang hampir sama: miskin, berkultur NU, dan asal desa. Perjalanan sebulan sekali itu semacam ritus peziarahan menuju “pepunden” bernama Prie Ge Es.

Agak aneh memang. Sekelompok santri ngaji kepada orang yang waktu itu lebih dikenal kartunis daripada kiyai. Kalau dia tak memiliki magnetud wali, pasti kami tak mungkin mau menebus waktu sepanjang malam itu dengan penuh spekulatif. Termasuk harus menerima fakta perih saat tuan rumah sedang tidak ada dan kami harus kembali berjalan kaki menembus bukit yang senyap itu. Instrumen desrupsi bernama HP superdigital untuk konfirmasi waktu itu mana ada?

Di rumah itu kami menggelar diskusi. Sajian teh panas, rempeyek, bakwan, dan termewahnya biskuit Khong Guan, meski harus hati-hati jangan-jangan isinya rengginang, sudah lenyap lebih dulu sebelum disimpulkan.

Serupa pedang yang tumpul, Mas Prie Ge Es adalah asahan bagi tajamnya mata mahasiswa melihat perubahan kebudayaan. Sesuatu yang kami tak dapatkan di kampus dan ditemukan di rumah berjarak 6 km itu. Perjalanan berkali-kali malam itu bikin malaikat yang mencatat amal kami perlu memberi footnotes oleh besarnya niat tholabul ‘ilmi yang terkontaminasi antara mencari ilmu atau memerbaiki gizi?

Jika saja apa yang terjadi saat itu bisa dirumuskan sebagai “Pola” pembentukan generasi mahasiswa, rasanya kehadiran Prof Musahadi Ham, Dr Mukhsin Jamil, dan Mas Tholhah, menjadi sangat berarti. Sebagai bagian dari penentu desain kaderisasi generasi baru mahasiswa IAIN/UIN Walisongo hari ini, diskusi di “Minggu Malam Wagen” itu bukan saja penting, tetapi sangat bermutu. Mereka saksi mahkota sejarah pergerakan di IAIN waktu itu.

Hari ini di tengah ketidakjelasan ukuran-ukuran standard profesionalisme dan mulai berbaurnya semua disiplin ilmu, tantangan terberat UIN Walisongo justru ketika dia menjadi “toko serba ada” di mana semua jurusan tersedia ketika menjadi universitas.

Dan di “Minggu Malam Wagen” itu, selain membuka kembali buku sejarah, saya menemukan beberapa kata kunci: tangguh, adaptif, kreatif, mandiri, dan yakin, meski dalam ketidakjelasan. Tak apalah orang menyebut kami golongan spesialis general, karena hari ini dunia sangat menghargai orang yang serba mau dan bisa meskipun hanya sedikit-sedikit.

Salam dongeng!
Hasan Aoni, Omah Dongeng Marwah

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan