Ragam Biaya Perkemahan 1.000 Tenda, Membersihkan Hutan dan Perlengkapan Lainnya

Read Time:2 Minute, 11 Second

Perkemahan 1000 tenda kali pertama diadakan di Kabupaten Probolinggo, yang dilaksanakan hari Kamis sampai Senin ini (25 – 29/7) tepatnya di hutan kayu jati Desa Tarokan Kecamatan Banyuanyar. Peserta perkemahan tersebut di ikuti dari SD, MI dan SMP di seluruh sekolah Kabupaten Probolinggo.

Setiap tenda terdiri dari 7 anggota dan satu pendamping, yang menarik di perkemahan ini adalah panitianya memakai sistem pemerintahan. Jika menjadi Bupati berarti ketua panitia di lingkup perkemahan. Ada staf pembantu layaknya sistem pemerintah, juga ada pos-pos di setiap kecamatan diperkemahan tersebut.

Dari sudut ujung utara hutan kayu jati sampai ke tengah dipenuhi tenda berjejer rapi dan dihadiri para orang tua yang menjenguk anaknya. Ada yang membawa makanan untuk si anak ada juga yang datang hanya sekedar melihat keadaan perkemahan tersebut. Kemacetan terlihat jelas di pintu masuk perkemahan hingga ke ruas jalan. Ini bisa jadi kurangnya persiapan, dimana kepadatan di pintu masuk tersebut membuat panik sebagian pengunjung.

Wilujeng (27) warga Tegalsono Kecamatan Tegalsiwalan adalah pengunjung yang terjebak macet, dari jam 17:12 WIB sampai 18:30 WIB belum juga bisa masuk karena pengaturan kendaraan yang masuk kurang maksimal. “Saya capek dari tadi diatas motor apalagi bawa anak kecil ditambah lagi banyaknya debu karena angin memang sangat besar dan tanahnya tidak di siram,” ujarnya.

Tak jauh dari tenda kemah juga terlihat banyak pedagang asongan berjualan seperti cendol, pentol, es tebu dan banyak lagi. Menurut salah satu pedagang pentol Cak To, “Kalau mau jualan di dalam area perkemahan ini harus bayar tiap harinya 25 ribu rupiah, kalau tidak bayar ya tidak boleh masuk, padahal penghasilan saya rata rata dapat 100 ribu rupiah kadang lebih sedikit, sekarang masih harus bayar karcis 25 ribu, rokok dan keperluan rumah tangga lain gimana?” jelasnya sambil senyum-senyum.

Menurut “bupati” atau ketua panitia Tirnam warga Desa Kedawung Kecamatan Kuripan yang juga tercatat sebagai Kepala Sekolah MA swasta di Desa Jatisari Kecamatan Kuripan menjelaskan pada media sabtu (27/7) bahwa kekurangan atas tenda dan penerangan ini masih di upayakan. “Saya selaku bupati di perkemahan 1000 tenda, acara ini memang kali pertama di Kabupaten Probolinggo, juga banyak kekurangan masalah tenda, penerangan dan kemacetan di pintu masuk perkemahan. Ini masih kami upayakan agar lebih lancar lagi. Soal pedagang yang berada di area perkemahan itu ada kontribusi ke kami, seperti membayar sewa tenda 300 ribu rupiah setiap tenda sampai acara selesai, karena mereka banyak dari luar daerah. Kalau asongan kami pungut 25 ribu rupiah walau kadang ada tawar menawar harga tersebut sampai ada yang bayar 10 ribu rupiah. Kalau setiap tenda bayar 100 ribu dapat kaos dan atribut dari kami. Sebenarnya uang tersebut kembali lagi untuk mereka, seperti biaya membersihkan hutan dan perlengkapan lainnya,” jelasnya.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan