Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Birokrasi Universitas Jember?

Read Time:3 Minute, 37 Second

Mungkin, bagi mahasiswa-mahasiswi seangkatan saya 2018 sudah tidak lagi heran dengan pelbagai urusan birokrasi kampus Universits Jember yang memang dan akan selalu berpilin-pilin, panjang dan runyam. Kami punya pengalaman empirik yang otentik terkait itu, yaitu tentang kemoloran pemberian jas almamater, kartu tanda mahasiswa dan tetek-bengek lainnya oleh kampus kepada para mahasiswa baru yang telat sampai satu semester lebih. Sampai-sampai kita (untuk tidak menyebut semuannya dari kami) harus demo terlebih dahulu untuk mendesak rektorat agar bergegas mempercepat pemenuhan apa yang dikatakan sebagai hak para mahasiswa baru, terdengar heroik bukan?

Namun terlepas dari itu, bagi siapa saja yang pernah masuk ke dalam gedung rekorat, entah sebagai pengurus organisasi ataupun pribadi yang biasanya sibuk dengan urusan perizinan kegiatan, penandatanganan proposal, atau bahkan pecairan dana. Saya berani bertaruh, gedung rektorat adalah salah satu tempat paling angkuh tetapi cerewet dengan segala keruwetannya, gedung rektorat menjadi semacam tempat sirkus yang selalu membosankan bagi para singa seperti kami. Memang, semua kembali kepada SOP dan ketertiban administrasi, apa boleh buat? maka jika ada anekdot yang kurang lebih bunyinya begini, pokoknya, motto rektorat itu, “jika bisa dibuat susah, kenapa harus dipermudah?” terdengar satire bagi telinga mahasiswa sastra seperti saya.

Baru-baru ini rektorat kembali melakukan blunder yang bagi saya cukup mengecewakan selaku salah satu mahasiswa. Alih-alih mencoba untuk merespon realitas yang ada, meski telat, kampus kami seolah-olah tidak mau kalah pamor dari unjuk akuntabilitas sebagai universitas yang notabene memegang julukan kampus kebangsaan. Kampus kami menaruh perhatian yang tinggi terhadap krisis sosial-ekonomi yang terjadi hari ini, terhitung semenjak seminggu lebih kampus ditutup sebab wabah pandemik Corona. Mungkin saja, saya berbaik sangka, bahwa pihak rektorat mulai merasa bising dengan kecerewetan para mahasiswa yang merasa kuliah online sangatklah menjenuhkan, sindiran cashback UKT dan protes-protes bagaimana nasib mahasiswa yang di daerahnya susah sinyal. Oleh sebab itu, rektorat dapat dikatakan lumayan melek dan tersadarkan, bahwa pihaknya harus mengambil sikap, paling tidak, mengeluarkan kebijakan yang dapat meredakan gemboran-gemboran ketidaknyamanan mahasiswa.

Pada akhirnya, pihak rektorat secara sedikit mengejutkan –karena kampus lain juga sudah melakukannya jauh-jauh hari – mengeluarkan kebijakan bahwa seluruh mahasiswa Universitas Jember yang masih menyandang status aktif sebagai mahasiswa, berhak mendapatkan bantuan (aku tidak tau mengapa rektorat harus memakai istilah ini, padahal secara moral ini memang kewajibannya dalam memenuhi aktivitas pembelajaran mahasiswa) dalam bentuk paketan dengan nominal setara lima puluh ribu rupiah, dengan melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui sistem terpadu masing-masing mahasiswa. Kebijakan ini awalnya direspon cukup baik oleh para mahasiswa, meski di surat keterangan resmi yang dikeluarkan rektorat terdapat embel-embel bantuan bagi yang membutuhkan, tetapi, di kondisi seperti ini, saya rasa semua mahasiswa – kecuali sebagian orang yang secara finansial tercukupi, dengan tidak mengatakan di rumahnya ada wifi – akan sangat membutuhkan dengan bantuan-bantuan mendesak seperti itu, dan lagi-lagi, kalimat protokoler bagi yang membutuhkan yang menurut hemat saya hanya sebagai formalitas itu menjadi sia-sia dan tak ada gunanya.

Tetapi, tanpa diduga sebelumnya, setelah kami cukup menunggu lama pencairan bantuan itu, ternyata pihak rektorat menggantikan bantuan data menjadi bantuan uang tunai dan akan ditrasfer langsung ke rekening mahasiswa dengan nominal yang sama (Surat Edaran Rektor No 5836/UN25/SP/2020). Nurani saya mengajak untuk berfikir yang baik-baik, tidak mengapa, sedikit atau banyak harus patut disyukuri, daripada tidak sama sekali. Tetapi, meminjam Paulo Freire yang menjelaskan bahwa kesadaran kritis akan terus bekerja. Sebenarnya, rektorat ini hanya main-main dalam mengeluarkan kebijakan? Ataukah cuma bermaksud meninabobokan mahasiswa yang mulai lumayan kritis? seharusnya saya tidak perlu berlebihan menanggapi kebijakan-kebijakan rektorat yang sering mentah, terkesan terburu-buru dan hanya spontanitas, toh ini sudah menjadi hal yang wajar bagi kami. Bantuan tranfer uang itu pun sekarang masih belum maksimal, untuk tidak mengatakannya tidak berjalan, sistem terkadang masih sering error dan mahasiswa yang akan mengakses diharuskan mereset password sister terlebih dahulu. Alamak, apakah kami akan diajak bermain tebak-tebakan?

Saya rasa, kebijakan-kebijakan pihak rektorat harus digodog terlebih dahulu sebelum dikeluarkan, agar supaya tidak terjadi kesalahan terulang dan akan terkesan sebagai sikap keterburuburuan saja. Mungkin bapak rektor yang baru itu masih dalam proses menyesuaikan diri dengan iklim gedung megah rektorat. Tetapi sebagai mahasiswa Universitas yang diharuskan untuk selalu menjaga nama baik almameter seperti dalam lagu mars Unej, saya hanya berharap, semoga bantuannya akan benar-benar cair dan dapat membantu keberlanjutan aktivitas belajar daring mahasiwa, saya tidak berharap bantuan ini akan kembali diganti, lebih-lebih diganti saldo shopee.

ditulis oleh : Rizal Kurniawan

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan