Mashudi, Sosok Pegiat Pembangunan Pedesaan Di Situbondo

Read Time:2 Minute, 0 Second

Situbondo merupakan kota santri , sebuah kota yang aman dan tentram, karena agama dengan kultur pesantrennya telah menjadikan budaya masyarakat sebagai satu kehidupan sosial yang utuh. Saling menghormati antar warga, bahkan toleransi beragama hampir tidak ada singgungan yang keras. Semuanya dapat diselesaikan dengan sinergisitas birokrasi, tokoh agama dan pihak-pihak keamanan. Nilai-nilai luhur ini sejak awal disadari oleh Mashudi sebagai kekuatan sosial politik Kabupaten Situbondo. Bahkan nilai-nilai demokratis mulai tumbuh dan bersemi sebagai nilai-nilai yang dianggap mampu mendinamisir civil society di desa-desa. Terbukti dalam penyusunan anggaran desa keterlibatan anggota masyarakat di Situbondo merupakan sebuag keharusan yang tidak perlu ada pemaksaan. Istilahnya warga desa otomatis terlibat dengan sendirinya.

Nama Mashudi dikenal dikalangan aktivis mahasiswa Situbondo, selain dirinya pernah menjabat Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Situbondo periode lalu, dia juga merupakan calon DPD RI satu-satunya yang berasal dari Kabupaten Situbondo. Hal ini namanya semakin banyak dikenal oleh masyarakat terutama kelas terpelajar. Tercatat jejaknya, Mashudi selain dikenal sebagai seorang santri yang pernah mondok di Sukorejo sekaligus sekolah di SMA Ibrahimy kemudian melanjutkan kuliah di Yogya . Ketika kuliah di Yogya pun dirinnya mondok di Krapyak, aktifitas sebagai mahasiswa juga tercatat sebagai eksponen aktivis 98 yang tergabung dalam Serikat 98.

Setelah kuliah Mashudi , mulai mendirikan lembaga Institute For Regional Development and Studies (IRDeS) semacam lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pelayanan publik pedesaan, sehingga juga dikenal sebagai sosok pegiat pembangunan desa. Sehingga suatu kerja sosial ini melibatkan aktivis mahasiswa yang peduli dengan pembangunan desa. Mashudi pun dengan sabar memberikan pendidikan dan penugasan lapang pada relawannya untuk bersama-sama mendampingi warga desa.
Warga desa pun sudah mengenal Cak Udi , nama panggilan akrab Mashudi , mungkin karena dikenal getol melakukan advokasi anggaran daerah terkait peningkatan pelayanan publik . Publik dalam hal ini warga desa yang dia dampingi, utamanya dalam menyusun APBDes bagaimana petinggi desa baik Kades maupun BPD sinergis untuk memberi pelayanan dan memfasilitasi aspirasi masyarakatnya.

“Kami sebagai petani desa yang dulu nggak tau apa-apa, sekarang sudah banyak menerima ilmu dari pak Mashudi, baik di pertanian maupun pembangunan desa,”ucap Pak Mahwi.

Dalam mendampingi masyarakat desa Cak Udi berupaya untuk meningkatkan nilai gotong royong warga desa, karena menurutnya gotong royong adalah wujud partisipasi warga.

“Mari membangun desa kita dengan mendorong seluas-luasnya partisipasi masyarakat karena dalam membangun desa bukanlah pekerjaan elit desa semata, tetapi tanggung jawab bersama sebagai warga desa. Membangun dan merawatnya agar kemanfaatannya bisa dirasakan untuk semua masyarakat,”begitu papar Cak Udi.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan