2 Tangis Perempuan di Gedung DPRD Sulsel

Read Time:2 Minute, 23 Second

Ada yang memantik hati kita pada prosesi penyumpahan atas nama wakil rakyat pada edisi 2019 tahun ini. Apa itu? Adalah tangis air mata dari dua orang perempuan.

Laman-laman media sosial dan tulisan sejumlah juru tulis Rabu sore kemarin, mewartakan seorang perempuan tangguh tertunduk sedih. Foto terlihat, kedua tangannya menyeka air mata, menutup sebagian wajahnya, membantu se lembaran jilbabnya agar air mata itu kering dari pipi, agar tak terlihat bahwa ia sedang bersedih, gulana dan menduraikan air mata. Andi Ina Kartika, politis Golkar yang pada pagi hari mencium tangan ketua nya Nurdin Halid, sebab mantan Cagub Gubernur itu mengumumkan jika dirinya telah terpilih sebagai ketua DPRD Sulawesi Selatan, usulannya pada DPP Golkar telah disetujui. Sorak tepuk tangan membahana di sebuah bilangan Warkop, pancaran bahagia, sumringah dan senyum tentu menyertai tepuk tangan dari mereka yang hadir. Wartawan, politisi Golkar dan tentu beberapa pengunjung Warkop. Kebahagiaan Andi Ina berubah pada sore hari. Berjam jam menunggu SK dari Golkar Jakarta tentang keabsahan dia sebagai Ketua DPRD definitif tak kunjung tiba. Debar jantung tentu tak keruan lagi. Sebagai seorang perempuan, rasa sedih telah mampir. Puncak dari rasa sedih dan malu, oleh karena Andi Ina yang seharusnya mengumumkan nama nya sendiri sebagai ketua definitif setelah 2 pekan lamanya masih tercatat sebagai ketua sementara DPRD Sulsel. Hingga sidang paripurna ditutup, SK yang telah diumumkan oleh ketuanya itu tak kunjung jua. Tangisan pun, tak terelakkan lagi.

Dua pekan lalu, tangisan pertama menipih lulai di lantai gedung dewan ini, adalah seorang politisi dari Partai Gerindra. Tangisan malu dan pilu dari mata Misriani Ilyas. Saat itu 83 temannya telah disumpah sebagai anggota DPRD, nama dia malah tak tercantum sebagai anggota DPRD terpilih dari partai besutan mantan Calon Presiden, Prabowo Subianto. Padahal, sebagaimana aturan KPU, suara Misriani terbanyak sehingga dirinya pantas, layak dan berhak duduk sebagai anggota parlemen.
Jadwal pelantikan pun tiba, Proses pelantikan telah ia siapkan, mengenakan pakaian terbaik, mengabarkan pada kerabat, keluarga dan handai taulan, tetangga serta yang memilihnya bahwa dirinya kini menjadi anggota dewan. Penuh semangat meninggalkan rumah, percaya diri dan yakin. Namun tiba jualah prosesi pelantikan itu. Ajibbbb… namanya tak tercantum, namanya tak terbaca kan, maka ia pun urung dilantik. Yah, tangisan perdana seorang perempuan di gedung wakil rakyat. Kata partainya, Misriani telah dipecat. Tetapi Misriani tak tau, mengapa ia dipecat? “Sampai hari ini saya tidak tau apa kesalahan ku.” Rintih Misriani yang meruak melali jagad sosmed.

Sebagaimana kodrat perempuan, tentang keindahan dan kecantikan. Tetapi panggung politik itu tak kenal keindahan apalagi kecantikan. Maka dari itulah, politik tak memiliki jenis kelamin, sebab ia tak memuji tentang kecantikan, kecakapan. Ia hanya sanggup menuju kekuasaan, muslihat, tipuan dan kepentingan. Ia tak berseni. Politik itu adalah politik hanya untuk kepentingan, tak ada Budi apalagi akal, ia hanya tipu muslihat. Bukan L’art pour l’art” atau seni (itu hanya) untuk seni.
Tetapi, ini bukan tangisan ibu pertiwi loh.

By Ano Aldetrix
Penulis Jalanan
Tentu kutuliskan ini sambil ngopi

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan