Busro Abadin Presidium BEM Pesantren se-Indonesia : Menyikapi Kemerdekaan Dalam Kacamata Mahasiswa Santri

Read Time:5 Minute, 18 Second

17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada zaman perjuangan, kata Merdeka begitu dielu-elukan dan didambakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan bangsa kita untuk bisa terlepas dari belenggu cengkeraman penjajah. Melepaskan diri dari penjajahan menjadi sebuah negara yang mandiri dan berdaulat. Kemerdekaan yang dirasakan bangsa Indonesia tidak lain adalah hasil dari jerih payah berbagai elemen bangsa, termasuk ulama dan santri. Mereka rela kehilangan harta, kedudukan, bahkan nyawa sekalipun demi Indonesia merdeka.

Aguk Irawan MN dalam catatannya yang berjudul Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012) bahwa awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selain itu menurut Wahjoetomo dalam Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Gema Insani Press, 1997) seperti dikutip Asyuri (2004), masyarakat pesantren mengadakan aksi terhadap Belanda dengan tiga macam. Salah satunya memberontak dan mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Dalam perspektif sejarah, pesantren sering mengadakan perlawanan secara silih berganti selama berabad-abad, untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Seperti kita kenal nama Pangeran Antasari, Sultan Hasanudin, Sultan Agung, Pattimura dan sebagainya. Beberapa pemberontakan yang dipelopori oleh kaum santri antara lain adalah pemberontakan kaum Padri di Sumatara Barat (1821-1828) yang dipelopori kaum santri di bawah pimpinan tuanku Imam Bonjol; pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1828-1830). Hal tersebut sedikit bukti bahwa kemerdekaan juga atas jerih payah ulama dan santri.

Berangkat dari visi Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia yaitu Terwujudnya Organisasi Mahasiswa Santri yang Bertaqwa, Berilmu, Berakhlaqul Karimah, Dapat Mempertanggungjawabkan Keilmuannya serta Cinta Islam dan Tanah Air. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya adalah salah satu bentuk syukur yang bisa kita lakukan karena kita dapat menjalankan syariat secara tenang adalah anugerah yang besar di tengah sebagian saudara-saudara kita di belahan dunia lain berjuang mencari kedamaian.

Selain itu yang dapat kita lakukan adalah mencintai negeri ini dengan memperhatikan berbagai kemaslahatan dan kemudaratan bagi eksistensinya. Mencintai tanah air merupakan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah mencintai Makkah dan Madinah karena dua tempat mulia tersebut merupakan tanah air beliau. Tanpa tanah air, seseorang akan menjadi tunawisma. Tanpa tanah air, agama seseorang kurang sempurna, dan tanpa tanah air, seseorang akan menjadi terhina. Maka dari itu mencintai tanah air adalah bagian dari iman karena tanah air merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama. Syekh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin halaman 37 mengatakan:
حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الإِيْماَنِ
“Cinta tanah air bagian dari iman.”
Nabi memberikan sebuah contoh teladan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»
“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. ” (HR Bukhari).

Patut kita sadari hanya dengan kondisi bangsa dan negara yang aman dan stabil, umat Muslim bisa beribadah dengan nyaman, beramal dengan baik, dan dapat beristirahat dengan nyenyak. Dan berkontribusi pada negeri merupakan hal penting yang bisa kita lakukan. Seiring canggihnya teknologi di era modernitas saat ini.
Kecanggihan teknologi saat ini sangat luar biasa. Dimana era digitalisasi sangat bergerilya dalam kehidupan dan aktivitas manusia, khususnya kalangan generasi milenial. Maka Kecanggihan teknologi berdampak pada peran pemuda dalam membangun negeri. Keseharian pemuda saat ini rata-rata lebih disibukkan dan menghabiskan waktunya dengan sosial media, game online yang begitu canggih dan ter-update. Pemuda sebagai garda terdepan perubahan dan penggerak dari kemajuan bangsa ini. Kita sebagai pelajar dan santri harus bisa menyikapi kecanggihan teknologi tersebut dengan bijak dan bermanfaat. Teknologi dibuat untuk memudahkan hidup manusia sebagai penggunanya, dengan hal tersebut kita harus bisa mengambil posisi untuk bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Mampu membaca peluang, mengambil peran dan trobosan didalamnya serta dapat menyaring berbagai informasi dengan. Karena kehadiran dari pada kecanggihan teknologi ini menjawab tantangan, memudahkan akses dan menjadi solusi dalam dunia kerja, pendidikan serta akses lainnya. Akan tetapi, dari kemajuan teknologi ini juga menciptakan masalah yang tergolong Hoax, isu sara, pornografi, teror dan lain sebagainya. Dengan hal itu sebagai mahasiswa santri bukan hanya fokus dengan masalah ukhrowi namun harus bisa berperan aktif problematika kehidupan di dunia karena keduanya haruslah seimbang.

Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH. Maman Imanulhaq pernah menyampaikan, dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini hendaknya manusia mampu menyeimbangkan antara unsur agama dan dunia, seperti halnya burung yang mampu melintasi angkasa dengan dua sayapnya. Manusia harus punya dua sayap, sayap kanan agama, sayap kiri dunia, sayap kanan doa, sayap kiri usaha, sayap kanan dzikir, sayap kiri fikir, sayap kanan unsur ketuhanan, sayap kiri unsur kemanusiaan.
Segala aktivitas di dunia ini dapat menjadi ladang untuk menuju keridhaan Allah. Segala sesuatu bernilai ibadah atau tidak, tergantung pada niatnya, bukan pada aktivitas itu sendiri. Shalat, puasa, haji dan ibadah formal lainnya ketika diniatkan untuk sesuatu selain Allah, seperti untuk membangun citra islami dalam politik sama sekali tidak memiliki nilai ibadah di hadapan Allah.

Sikap profesional dalam menjalankan aktivitas di tempat kerja sehingga hasil kerja memuaskan sesungguhnya bernilai ibadah sangat tinggi. Ketulusan niat dan profesionalitas merupakan kunci kita untuk bisa menjalankan masalah dunia dan akhirat dengan seimbang.(red) Abadin

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan