Naskah Kisah Perjuangan Suku Naga Ws Rendra: Relevan Untuk Kritik Ketimpangan sosial Hari Ini

Read Time:5 Minute, 1 Second

Kisah KKN desa penari begitu luar biasa. Dengan gaya bahasa penceritaan yang berlebih-lebihan dan terkesan dipaksakan, dia berhasil menyedot perhatian hampir sebagian kepala, terutama kaum millenal dan aktivis sosmed. Jika benar kisah itu adalah fiktif, pengarang cerita jelas sangat faham dengan konsep dramatisir peristiwa. Gaya pengisahannya yang kelewat klasik itu penuh dengan logika mistika, memang benar kata pengarang Madilog yang tidak pernah percaya dengan adanya indra ke-6 dalam tubuh manusia itu, bangsa Indonesia tak akan pernah maju jika masyarakatnya masih berfikir dalam cara “mystical logis”. Tan Malaka tidak bermaksud mendikotomis diskursus yang sudah demikian lama melekat dengan gaya berfikir manusia bangsa ini, sebab dia tahu bahwa khazanah kebudayaan Nusantara begitu gemilang dan meluber. Mulai legenda, folklore dan warisan cerita turun temurun dari generasi ke generasi. Tan faham betul dengan bangsa ini, yang dia kritik bukan tentang kehidupan di luar nalar manusia atau semacam peristiwa absurd. Tapi yang dia gasak adalah begitu mudahnya bangsa ini lemah dengan cerita-cerita positivistik pra-logis semacam itu, yang secara tidak langsung menyebabkan bangsa ini lemah untuk berfikir secara rasional dan diskursif. Ujung-ujungnya rasa kritis dan skeptis mengalami mati suri dalam otak manusia.

Begitupun Livi Zheng, nama yang tiba-tiba menjadi sensasi di jagat maya dan naik daun dengan isu filmnya yang menembus Hollywod serta salah satu filmnya masuk dalam nominasi Oscar.

Point pertama, menembus Hollywod. Konteks berita di sini bukan Livi berkarya di dalam negeri kemudian dipasarkan ke luar negeri.Namun, ada campur tangan dari keluarga besar Livi yang merupakan pendiri Sun and Moon Films,rumah produksi film yang bertempat di Amerika. Keluarganya selalu rela menggelontorkan dana banyak dengan promosi yang berlebih.Point kedua, masuk nominasi Oscar. Film yang berjudul Brush With Danger yang pada saat itu Livi menduduki sebagai sutradara, produser sekaligus pemeran utama dinyatakan sebagai film yang masuk nominasi Oscar tahun 2014.Tahan sebentar, menurut pernyataan salah satu media berita. Film yang masuk nominasi Oscar 2014 adalah film yang tayang pada sepanjang tahun 2013. Sedangkan, film Brush With Danger tayang perdana pada 19 september 2014. Premisnya, film ini mustahil masuk dalam nominasi Oscar 2014. Oleh sebab itu, kapasitas Livi dalam menjadi sutradara dan sineas masih simpangsiur dan dipertanyakan bahkan digadang-gadang sebagai pemberitaan yang bohong.

Pertanyaan paling penting, siapakah keluarga besar Livi itu? menurut tirto.id, ayah Livi adalah bisnisman papan atas dan penguasa Kemayoran. Namanya, Gunawan Wijtaksono yang mengentak jagat politik Indonesia sejak 2006. Dugaan kongkalikong selalu mengiringi sepak terjang ayah Livi dalam membangun kerajaan bisnisnya yang superior itu. Ayahnya adalah pemain bisnis yang rumit sekaligus rapi. Beberapa kali ia tersandung kasus, tetapi selalu lolos dan aman sentosa. Keluarga Livi juga menyanding dan dekat dengan para pejabat seperti Jusuf Kalla (Wapres), Luhut Binsar Panjaitan (Menko Kemaritiman), Bambang Soesatyo (Ketua DPR) untuk mempromosikan hajat film terbarunya, Bali: Beats Of Paradise. Film yang dituding sebagai upaya eksploitasi budaya sebab menjadikan kebudayaan sebagai komoditas dalam konten filmnya. Tidak hanya itu, keluarga Livi, tepatnya ayah, pernah memainkan politisi, Yusril Ihza Mahendra dalam filmnya yang berjudul Laksamana Cheng Ho. Dan yang terbaru, Livi sedang menggarap film The Santri yang ternyata pemeran utamanya adalah Emil Dardak (Wagub Jatim). Heran dan janggal saja, dari sekian banyak aktor kawakan yang bisa dijadikan mitra dan kolega dalam filmnya, keluarga Livi lebih suka mengajak para pejabat untuk menjadi pemeran utama. Pasti di kepala kita akan berfikir, apabila kekuasaan dan kekayaan telah berkompromi, pasti dan tak mungkin tidak, akan ada intrik dan sekongkol yang sedang direncanakan. Mungkin itu hanya fikiran burukku saja.

Terlepas dari semua itu, Teater Rayon Sastra akan menggarap pementasan dengan judul naskah Kisah Perjuangan Suku Naga karya W.S Rendra yang lahit tahun 1975. Pementasan ini adalah hajat tahunan di setiap akhir keperngurusan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Dengan gaya metafora sebagai kritik khas Rendra seperti dalam puisinya, ia mengambil fragmen dari realita sosial seperti; bagaimana hegemoni Negara maju pada Negara berkembang, ancaman modernisasi akut, kedok revitalisasi kebudayaan, wabah westernisasi, keserakahan penguasa, bisnis superior lahan, oligarki dan semacamnya serta kekuatan pers. Yang akan diambil masing-masin tokoh yang kuat. Di sini saya tidak akan menceritakan detail ataupun transparansi adegan dari naskah ini.

Lalu, mengapa harus Kisah Perjuangan Suku Naga? Tentu, kami tidak sekedar asal comot naskah, kami melakukan diskusi yang lumayan panjang dan menyebalkan dengan merundingkan naskah apa yang seksi untuk dipentaskan pada hari ini. Bukan hanya seksi dari segi pementasan, namun seksi secara gagasan, wacana dan literasi. Kami tetap memberi batasan referensi naskah pada masing-masing personal, yaitu; “Referensi naskah pementasan tahun ini harus berupa drama kolosal.” Dan akhirnya kami memutuskan untuk mementaskan Kisah Perjuangan Suku Naga. Kami langsung menghubungi ahli waris yang mengurusi naskah-naskah karya Rendra yang berada di Jakarta. Kami membeli naskah Kisah Perjuangan Suku Naga sebagai bentuk menghargai sebuah karya dan dalam rangka meminta izin untuk mementaskan masterpiece ini. Dan beruntungnya lagi, salah satu dari anggota kami, Teater Rayon Sastra sempat bertatap muka dengan Ken Zuraida, Istri mendiang Rendra. Allohummagfrlahu. Aamiin. Saat beliau mengisi acara sastra di Probolinggo. Dan memberi pesan kepada kami untuk benar-benar serius dalam menggarap hajat besar ini. Sampai sekarang, kami tetap berkomunikasi pada Ken Zuraida untuk sekedar memberi kabar dan saling menyamangati.
Walaupun naskah Kisah Perjuangan Suku Naga ini ada hampir setengah abad, lahir pada masa gejolak Orde Baru, namun nilai dan substansi pada naskah ini masih sangat relevan dan cocok untuk hari ini. Tentu kami sudah menimbang-nimbang dan berfikir maju mengapa harus naskah ini yang kita ambil. Pertimbangan utama kami adalah menjadikan sejarah sebagai kritik untuk hari ini dalam mendekonstruksi cara berfikir dengan kembali mengingatkan masyarakat agar selalu peka terhadap realita dan ketimpangan sosial yang ada pada sekitar kita. Soal mengedukasi, memberi pemahaman, dan promosi adalah bonus yang akan kami peroleh jika kami benar-benar serius dalam proses penggarapan naskah Kisah Perjuangan Suku Naga ini.

Menyoal nafsu kekuasaan dan kekayaan memang tak akan pernah ada habisnya. Oleh sebab itu, sesekali kita menikmati dan mensyukuri hidup, sejenak menyalakan musik dan merayakan baper¬¬ dengan mendengar Banyu Langit dan Sewu Kutho dari empu patah hati sebelum tidur. Panjang umur kisah cinta dan perlawanan!

penulis:Rizal Kurniawan

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan