Aktivis Lingkungan Protes, Perlu Adanya Hutan Kota Di Jember

Read Time:2 Minute, 18 Second

Menurut Kusuma Aktivis Ampuh Jember, Panasnya kota Jember yang semakin tahun semakin meningkat, bertanda minimya penghijauan yang ada di wilayah kota Jember.

Sudah semestinya Pemerintah Kabupaten Jember harus memperhatikan konservasi hutan di pusat kota dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), yang terlihat titik-titik minimnya hutan kota Jember. Sebagai wilayah dengan jumlah penduduk paling padat dan tingkat polusi tinggi, masyarakat kota Jember sangat penting untuk mengadakan hutan kota yang cukup. Selain berfungsi sebagai “hijauan” paru-paru kota, hutan kota sangat dibutuhkan mulai dari sebagai lahan resapan dan tandon air hingga kebutuhan rekreasi keluarga yang menyenangkan.
“ Kami selaku aktivis lingkungan menyatakan pemerintah kabupaten Jember seharusnya mengadakan, mengatur fungsi dan pengelolaan hutan kota abadi demi penyeimbang polusi udara dan resapan air untuk kepentingan anak cucu kelak, tidak ada lagi penebangan diarea hutan kota ”, demikian pernyataan Kusuma Ampuh ketika diwawancarai besuki.id di rest area Jubung.

Tingkat kepadatan penduduk rata-rata sebesar 787,47 jiwa per kilometer persegi. Namun di tiga kecamatan pusat kota, kepadatan penduduk lumayan tinggi dibandingkan kecamatan lainnya. Kecamatan Kaliwates, misalnya, memiliki kepadatan 2.396,51 jiwa per kilometer persegi. Dengan laju pertumbuhan gedung-gedung bertingkat yang semakin padat memenuhi lahan-lahan kota. Kemudian bila dihitung laju pertumbuhan penduduk Jember sendiri rata-rata 0,54 persen selama sepuluh tahun terakhir. Menjadi betapa pentingnya kebutuhan hutan kota untuk kebutuhan tersebut di kemudian hari nanti, terang Kusuma.

Sementara itu, Idrus selaku aktivis mahasiswa PMII juga mendesak agar pemerintahan desa-desa di Jember agar membuat perdes yang berlaku bagi masyarakat untuk menaman pohon sehingga akan menghijaukan lingkungan rumah masing- masing. ” penanaman pohon untuk mengimbangi kegiatan penebangan pohon secara liar, terutama penebangan pohon – pohon di kota Jember yang kian marak dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak peduli terhadap keseimbangan lingkungan dan kebutuhan hutan kota ini harus menjadi perhatian serius kita semua “, begitu tegas Idrus menyatakan kepada besuki.id .

Apalagi adanya pembalakan liar di lereng gunung masih terjadi, dan pembongkaran gumuk makin merajalela, akibatnya jika hujan deras beberapa jam saja jember mengalami banjir dan bencana tanah longsor. “Apakah visi pemkab Jember penataan ruang yakni menyeimbangkan pertumbuhan wilayah melalui peningkatan partisipasi masyarakat dan mendorong peran investasi, dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan hidup ini perlu dikawal secara ketat oleh masyarakat”, tandas Idrus lagi.

Ada juga Mulya aktivis Ampuh Puger yang menyatakan bahwa jumlah tanaman di tepi pantai pun menipis sehingga abrasi terus mengancam wilayah pesisir selatan Jember. Seharusnya penetapan hutan kota sudah ada dalam bentuk zonasi kawasan hutan lindung yang ditetapkan Dinas LH , serta dinas terkait lainnya yang termaktub dalam kegiatan teknis yang sudah ditetapkan kawasan-kawasan konservasi, termasuk untuk kawasan hutan kota sebagai resapan air dan mata air. Mungkin yang kita lihat sementara ini untuk paru-paru kota Jember hanya ada ruang terbuka hijau (RTH), itupun tidak optimal memenuhi kebutuhan masyarakat Jember.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan