0 0
Read Time:3 Minute, 37 Second

Al-qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang merupakan wahyu dari Allah SWT. Al-qur’an bukan hanya membicarakan tentang keesaan Allah sebagai tuhan semesta alam saja. Akan tetapi, banyak ayat suci-Nya yang menguak tentang fakta-fakta ilmiah. Dahulu sekali, jauh sebelum terdapat alat-alat canggih yang dapat membuktikan perihal fakta ilmiah, al-qur’an lebih dahulu telah menceritakan dan/atau memberikan isyarat kepada manusia. Karena itu, tanpa diragukan lagi al-qur’an merupakan kalam Allah yang Maha Benar. Bahkan al-qur’an -pun menguak isyarat ilmiah terkait sidik jari manusia.
Sidik jari merupakan bukti otentik dari kepribadian setiap orang. Para penegak hukum banyak menggunakan sidik jari untuk mengungkap kasus kriminal, karena sidik jari berperan penting dalam proses mengidentifikasi data diri seseorang. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), sidik jari ialah penyelidikan bekas jari untuk mengetahui dan membeda-bedakan orang (dengan meneliti garis-garis rekaman ujung jari).
Sidik jari terdapat beberapa pola, diantaranya ialah whorl (memiliki lingkaran di tengahnya), loop (mirip dengan garis-garis yang membentuk gelombang), dan arch (lengkungan/sidik jarinya berbentuk seperti busur panah atau bukit). Berdasarkan penelitian pada abad ke-19 menyatakan bahwa tidak ada dua manusia yang memiliki sidik jari sama/identik. Bahkan anak kembar seklipun. Maka dari itu sangat mungkin bagi pihak kepolisian untuk menggunakan sidik jari dalam mengungkap kasus-kasus kriminal sebagai pengidentifikasian pelaku tindak kriminal.
Terlepas dari penjelasan diatas, al-qur’an telah mengisyaratkan bahwasanya sidik jari manusia merupakan ciri khas dari masing-masing individu. Ayat yang mengisyaratkan hal tersebut termaktub dalam Q.S. al-Qiyamah ayat 1-4 yang berbunyi:
لَاۤ اُقۡسِمُ بِيَوۡمِ الۡقِيٰمَةِ (1) وَلَاۤ اُقۡسِمُ بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَةِؕ (2) اَيَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَهٗؕ (3) بَلٰى قٰدِرِيۡنَ عَلٰٓى اَنۡ نُّسَوِّىَ بَنَانَهٗ (4)
“Aku bersumpah dengan hari Kiamat (1) dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).‏ (2) Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? (3) (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna. (4)” (QS. 75:1-4)
Zaghlul an-Najjar dalam kitab tafsirnya menjelaskan mengenai surah al-Qiyamah ayat 4, bahwasanya ayat ini merupakan tanggapan terhadap orang-orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Lafad بلى pada ayat ke-4 merupakan negasi terhadap ayat sebelumnya. Bahkan Allah SWT mampu melakukan apa yang lebih dari itu (mengumpulkan tulang belulang).
Kata بنان merupakan bentuk jamak dari بنانة yang berarti jari atau ujung jari. Sedang maksud dalam ayat 4 ini ialah, Allah mampu membangkitkan kembali jasad orang yang mati, terlepas dari tingkat pembusukan dan peleburan tubuh mereka. Allah mampu membangkitkan kembali orang-orang yang mati dengan rincian jejak yang membedakannya dengan orang lain sepanjang hidupnya. Dan mengenai perihal disebutnya kembali ujung jari, alih-alih menyebut tulang belulang adalah karena hal tersebut (ujung jari) merupakan salah satu karakteristik paling menonjol yang jelas dalam tubuh dan hal terakhir dari tahap dasar penciptaan janin.
Zaghlul an-Najjar juga menjelaskan secara sains mengenai sidik jari. Bahwa, garis-garis (sidik jari) memiliki bentuk yang berbeda (khas) pada masing-masing individu. Tidak pernah bisa identik pada dua individu. Bahkan jari satu dengan yang lain, baik jari kaki maupun tangan dalam satu individu tidak dapat dicocokkan satu sama lain.
Lafadz (التَّسْوِيَّة) اَنْ نُسَوِّيَ dalam ayat ini bermakna penyusunan sesuatu secara sempurna. Artinya, kelak Allah akan membangkitkan manusia, dibentuk serta disusun oleh-Nya kembali dengan sempurna dan utuh (tanpa kekurangan sedikitpun) seperti kehidupan pertamanya (di dunia).
Allah memang tidak menjelaskan secara signifikan terkait sidik jari manusia yang ada dalam surat al-qiyamah. Namun, Allah hanya memberi isyarat dibalik susunan Bahasa yang telah Allah kalam-kan. Manusia merupakan makhluk-Nya yang diciptakan dengan sempurna. Bukan hanya diberi nafsu saja, namun manusia juga diberi akal untuk berfikir. Jadi, sudah sepantasnya, terkait hal-hal ilmiah, Allah hanya sekedar mengisyaratkan saja. Selebihnya manusianya-lah yang perlu berfikir maksud dari apa yang dikalamkan oleh-Nya.

TENTANG PENULIS
Nabila Maulidia, lahir di Surabaya, 10 Juni 2001. Mahasiswi S1 Ilmu Al-Qur’an dan tafsir di Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan. Saat ini berdomisili di desa Pandian, Tamberu Timur, Sokobanah, Sampang.

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.