Gatot Surono Tetap Melestarikan Padi Rojolele Meskipun di Cap Komunis

Read Time:2 Minute, 52 Second

Anda kenal Gatot Surono? Lahir di Klaten 6 Mei 1931, masa mudanya bersekolah di pendidikan guru, kemudian melanjutkan ke Sospol UGM lalu dikirim kuliah ke luar negeri. Sepulangnya dari sana beliau malah di tuduh kiri oleh Orde Baru. Penuturannya juga pernah di jebloskan ke penjara sepulang dari kuliah ikatan dinas di China Universitas Peking, selama empat tahun mempelajari analisa sosial dan ilmu politik.

Beliau gelarnya Doktor yang ketika ada di Indonesia justru tidak ada pekerjaan untuknya. Kemudian ditampung oleh kawannya seorang Uskup untuk jadi seorang pekerja pabrik penyulingan, mungkin karena saat itu di cap kiri sehingga susah mendapat kerja. Ketika beliau bekerja di Pabrik Penyulingan, itu pun masih direcokin oleh pensiunan tentara rekan sepabriknya yang menekan pemilik pabrik. Akhirnya beliau dipecat dengan hormat mungkin karena jasanya pada pabrik sudah membuat pabrik tambah besar.

Uang pesangon yang diterima dari pabrik, kemudian beliau pergunakan untuk bertani dan menyewa tanah di desanya. Mulai tahun 1984, beliau menanam padi lokal pilihannya waktu itu Rojolele dengan cara alami. Disamping untuk menjaga kelestarian benih padi lokal juga untuk pengelolaan yang berkelanjutan, karena tanah bila hanya unsur kimia tanah kan cepat rusak. Tapi saat itu Orde Baru sedang gencar-gencarnya menggalakkan Swasembada Beras sehingga aturan tanam padi pun semua harus menerima berdasarkan paket yang diminta Orde Baru.

Paket Revolusi Hijau pada saat itu adalah intensifikasi lahan pertanian yang berujung pada kuantitas hasi panen, tetapi beliau tak mau dengan paket tersebut, sehingga sering menjadi amuk aparat.

Dia tetap gigih menanam padi Rojolele dengan cara alami, dengan keinginannya bahwa tanah ini harus diselamatkan dari kerusakan dan benih padi lokal itu sebagai upaya melanjutkan warisan tanam leluhurnya. Ada pula kejadian hingga padinya dicabuti tentara karena dianggap menentang kebijakan rezim Suharto, akhirnya beliau ditahan di Koramil selama empat bulan. Tapi beliau tetap gigih menyuruh orang lain atau kelompok-kelompok tani untuk menanam kembali tanaman padi lokal tersebut.

Dan dikisahkan pada suatu ketika panen raya, beliau mengundang tentara-tentara Koramil tadi untuk syukuran dan mengadakan acara makan-makan di rumahnya. Nasi hangat yang beraroma harum dan punel serta lauk pauk ala pedesaan. Tentara tersebut merasakan nasi punel dan lauk sederhana ternyata berbeda dari yang biasanya dimakan.
Dengan nada ingin tahun tentara tersebut menanyakan pada Pak Gatot, ini beras jenis apa kemudian di jawab oleh Pak Gatot bahwa ini beras Rojolele dari benih padi yang pernah dicabuti kemarin. Sontak tentara tersebut kaget dan minta maaf karena sebagai aparat hanya menjalankan perintah komandan.

Pak Gatot pun menasehati untuk tidak melarang kegiatannya lagi karena akan mengajari semua petani dan kelompok tani di desanya agar menanam padi lokal Rojolele.

Kini beliau telah meninggalkan kita semua pada 19 Agustus 2019, dua hari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 74. Beliau adalah Pahlawan yang gigih memperjuangkan kedaulatan pangan. Sudah selayaknya pemerintah mengapresiasi perjuangan beliau dengan penghargaan yang pantas sebagaimana upaya-upayanya dalam bidang pertanian. Terimakasih Pak Gatot Surono, nama mu akan selalu hidup dalam benih-benih mu dan ilmu pengetahuanmu yang berguna bagi generasi Republik Indonesia di masa kini dan mendatang.

Nah begitulah sekelumit kisah dari perjalanan Bapak Gatot Surono. Saya pikir beliau adalah seseorang Pahlawan Pertanian yang mengharumkan nama Indonesia dengan melestarikan benih padi lokal Rojolele yang dikenal dunia. Meskipun di cap kiri atau komunis selama bertahun-tahun dan mendapat perlakuan kurang beradab dari rezim Orde Baru, tapi itu tak menyurutkan niat beliau untuk mengabdi pada bangsa dan negara dengan penemuan dan inovasinya yang luar biasa di bidang pertanian. Sehingga nama beras Rojolele dikenal masyarakat dan jadi beras dengan kualitas premium.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan