Kata Jasiman Perhutani Lebih Baik Dibubarkan, Dukungan Istri Untuk Masa Depan Anak Cucu

Read Time:1 Minute, 11 Second

Peranan tokoh pejuang reforma agraria terhadap upaya penyelesaian kasus sengketa di wilayah Silo, tak luput dari peran Pak Ho, dengan “nama daging” Jasiman. Pak Ho berasal dari Klowangan Tanahmanis Desa Sidomulyo Kecamatan Silo. Sebagai pimpinan organisasi tani lokal yang meliputi Tanahmanis dan Sukmailang Pace, dengan anggota 660 orang. Beliau bisa mengerahkan anggotanya untuk partisipasi peringatan HTN ke-59 sebanyak 10 truk.

Pak Ho dan anggotanya adalah sebagai petani penggarap, rata-rata tanah garapannya berkisar 1-2 ha yang ditanami tanaman kopi. Tanah mereka ditanami kopi dengan naungan pohon mahoni. Dulu pohon mahoni ini yang menjual mandor Perhutani 5 ribu per bibitnya.

“Tapi kalau sudah besar diakui Perhutani dan petani tidak diberi bagian sama sekali. Kan lebih baik Perhutani itu dibubarkan saja,” kata Jasiman.

Bercerita tentang perjuangan sengketa tanah ini mulai tahun 2004 dalam memperjuangkan hak atas tanah garap, konsistensi inilah yang membuat rakyat percaya padanya. Kemudian baru setelah 2017 bergabung dengan Sekti. Menurut ceritanya Pak Ho ini pernah menjalani hukuman penjara selama 6 bulan di Penjara Jember, karena dilaporkan menebang pohon kloncing yang tergolong kayu alas.

Jika dilihat dari penampilan fisiknya Pak Ho ini masih kelihatan gesit dan bugar, seperti umur 60’an, ternyata beliau lahir pada tahun 1922. Kegigihan perjuangan seorang lelaki mestinya terdapat support istri, dan benar sekali istrinya selalu memberikan dukungan untuk keberhasilan perjuangan hak atas tanah tersebut. Terutama bila tanah itu berhasil dimilikinya itu untuk kepentingan kelangsungan hidup anak cucu di masa datang.

0 0

About Post Author

Besuki.id

Jalan suprapto 16
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Besuki.id

Jalan suprapto 16

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan